Siswa Kelas 12 MAS Al-Nahdlah Ikuti Tes Diagnostik

Depok, Al-Nahdlah IBS – 19 siswa kelas 12 MAS Al-Nahdlah mengikuti kegiatan Tes Diagnostik bersama Lembaga Bimbel Bintang Pelajar pada Jumat (24/10/2025) siang.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Laboratorium Komputer Pesantren Al-Nahdlah tersebut, para peserta menjawab sejumlah pertanyaan yang terdiri atas asesmen kognitif dan asesmen non-kognitif.

Asesmen kognitif digunakan untuk mengukur pencapaian kompetensi para siswa. Sedangkan asesmen non-kognitif digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kesejahteraan psikologis, gaya belajar, latar belakang para siswa.

Siswa Kelas 12 MAS Al-Nahdlah mengerjakan Tes Diagnostik. Foto: M. Ihfal Alifi/Al-Nahdlah

Pengawas Tes Aisyah Rahmawati mengatakan, Tes Diagnostik ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa.

“Tes ini membantu guru memahami kebutuhan siswa untuk menyesuaikan metode pengajaran,” ujar Aisyah.

Perempuan yang juga merupakan Staf Pengajar di Lembaga Bimbel Bintang Belajar ini menambahkan, tes ini juga berguna dalam proses merancang pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan personal masing-masing siswa.

Sebagai informasi, Tes Diagnostik ini menjadi awal dari rangkaian Program Beasiswa Santri Baznas 2025 yang dijalankan oleh MAS Al-Nahdlah.

Tahun ini, MAS Al-Nahdlah kembali menggandeng Lembaga Bimbel Bintang Pelajar setelah pada tahun sebelumnya juga menggandeng lembaga yang sama.

Upacara Hari Santri Nasional 2025, Ini Tiga Pesan Kepala Kepengasuhan Pesantren Al-Nahdlah

Depok, Al-Nahdlah – Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok menggelar upacara perayaan Hari Santri Nasional pada Rabu (22/10/2025) pagi di Lapangan Serbaguna Pesantren Al-Nahdlah.

Upacara tersebut dihadiri oleh seluruh unit lembaga yang berada di bawah naungan eLSAS Foundation, yakni SDIT An-Nahdlah, MTs Al-Nahdlah, dan MAS Al-Nahdlah.

Kepala Kepengasuhan Pesantren Al-Nahdlah KH Miftahul Huda, Lc dalam amanat upacara menyampaikan tiga pesan untuk para santri, khususnya santri Al-Nahdlah.

“Pertama, teladani semangat jihad para ulama yang telah memberikan kemerdekaan bagi kita,” tutur Kiai Miftah.

Ia menjelaskan, kemerdekaan itu tidak hanya berupa kemerdekaan fisik dari belenggu penjajahan, melainkan juga kemerdekaan akal dari belenggu kebodohan.

“Perjuangan atau jihad sekarang ini tidak hanya dengan kekuatan fisik, kekuatan senjata, melawan para musuh. Jihad yang (juga) harus kita korbankan adalah jihad untuk memerangi kebodohan, (dengan) sungguh-sungguh dalam belajar,” terang Kiai Miftah.

Ia menyebut sebuah riwayat yang mengatakan bahwa keringat yang menetes dari seorang penuntut ilmu atau santri, setiap kekuatan yang ia kerahkan, dan setiap tinta yang ia goreskan untuk belajar, akan dicatat sebagai pahala yang senilai dengan darah para syuhada.

“Kedua, kita sebagai santri di tengah disrupsi informasi, yang pertama harus kita kokohkan adalah iman kita,” beber Kiai Miftah.

Ia mengibaratkan keimanan dengan pohon. Pohon membutuhkan pupuk dan air yang cukup agar ia tumbuh dengan baik. Begitu pula keimananan seseorang juga harus dipupuk. Dan pupuk keimanan adalah ilmu yang mendalam.

“Tanpa ilmu yang mendalam, iman kita tidak akan kuat. (Sebagaimana) tanpa pupuk yang baik, tanpa air yang cukup, pohon akan mati. Sekalipun tidak mati ia akan kering dan tidak berkembang dengan baik,” ujar Kiai Miftah.

Puncaknya, keimanan akan makin sempurna ketika itu diwujudkan dengan amal soleh. Seperti berakhlak mulia, menghormati orang tua dan guru, dan sebagainya.

“Kita harus bisa menyeimbangkan keimanan yang kokoh, ilmu yang mendalam, dan amal yang baik,” tegas Kiai Miftah.

Pesan ketiga atau terakhir dari Kepala Kepengasuhan untuk para santri adalah mengisi ruang digital dengan konten yang moderat.

“Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Tetapi, konten dan isi media sosial saat ini masih sedikit sekali konten yang diwarnai oleh para mujahid yang toleran dan moderat. Konten di ruang digital masih didominasi oleh mujahid ekstrem,” papar Kiai Miftah.

Oleh karena itu, ia berpesan agar para santri memanfaatkan dan mengisi ruang digital sebaik mungkin dengan konten yang moderat dan toleran, yang menunjukkan bahwa islam adalah rahmatan lil alamin.

Haflah At-Takharruj 2025, Ini Pesan KH Abdullah Mas’ud Kepada Para Santri

Depok, Al-Nahdlah IBS – Pondok Pesantren Al-Nahdlah menggelar acara Haflah At-Takharruj santri Kelas IX MTs Al-Nahdlah dan Kelas XII MA Al-Nahdlah pada Senin (12/5/2025) pagi.

Acara yang menjunjung tema “Santri Berdaya, Umat Berjaya: Dari Pesantren Menuju Perubahan Dunia” ini dilaksanakan di Gedung Pemuda Pondok Pesantren Al-Nahdlah.

Sebanyak 26 santri dari Kelas IX MTs (12 putra, 14 putri), dan 21 santri dari Kelas XII MA (7 putra, 14 putri) diwisuda di hadapan orang tua mereka pada Haflah at-Takharruj tahun.

Acara dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, Ketua Yayasan eLSAS Foundation KH Abdullah Mas’ud, Kepala Kepengasuhan KH Miftahul Huda, serta seluruh jajaran pengurus yayasan, dewan guru dan pembina asrama.

Acara dimulai dengan lantunan shalawat oleh tim hadrah Al-Nahdlah, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, serta penampilan dari tim tari Al-Nahdlah.

Ketua Yayasan eLSAS Foundation KH Abdullah Mas’ud dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para santri yang diwisuda.

“Saya menyampaikan selamat kepada para santri yang hendak diwisuda,” buka Kyai Mas’ud.

Ketua PCNU Kota Tangerang Selatan ini juga berpesan kepada para santri yang diwisuda untuk selalu istiqomah menjalankan ilmu-ilmu yang sudah diajarankan di pesantren.

KH Abdullah Mas’ud. Foto: M Fadhlillah

“Pertama, saya berpesan semoga Anak-anak bisa mengamalkan dan mengaplikasikan apa yang sudah didapat di pesantren ini,” ujarnya.

Selanjutnya, Kyai Mas’ud berharap para santri mampu melanjutkan berbagai keistiqomahan yang telah dibiasakan saat di pesantren.

“Kedua, semoga kalian bisa istiqomah mendawamkan apa yang diajarkan di pesantren ini, nilai nilai, karakter baik, kebiasaan yang sudah ditanamkan di pesantren jangan sampai ditinggalkan.”

Terakhir, Kyai Mas’ud berpesan agar para santri tetap menyambung silaturrahmi dengan pesantren, terutama dengan para guru yang pernah mendidik mereka.

“Terus jaga hubungan baik dengan pesantren, halaqah ruhiyah antara santri dengan kyai, murid dengan guru, ini yang harus kalian jaga, karena ini yang akan mengantarkan keberkahan kalian,” tegasnya.


Editor: M. Naufal Hisyam

Get 30% off your first purchase

X