Pengumuman SNBP 2025, Satu Santri MA Al-Nahdlah Diterima di Universitas Padjajaran

Depok, Al-Nahdlah IBS – Kabar gembira datang dari MA Al-Nahdlah. Salah seorang santri Kelas XII bernama Nurul Safiqri berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Sesuai dengan hasil SNBP 2025 yang resmi diumumkan pada Selasa (18/3/2025) kemarin, santri yang akrab dipanggil Fiqri tersebut dinyatakan lolos seleksi dan diterima di Program Studi (Prodi) Perikanan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Sebagaimana dilansir Antara, jumlah peminat Prodi Perikanan Unpad pada 2025 ini adalah 273 peminat. Sedangkan daya tampungnya adalah sebanyak 110 kursi.

Prodi yang telah ada sejak 1965 dan menjadi cikal bakal Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad ini telah mengantongi Akreditasi A dari BAN-PT.

Saat diwawancarai oleh tim media Pesantren Al-Nahdlah, Fiqri mengaku bahwa pada awalnya ia tidak berharap bisa diterima di Prodi Perikanan Unpad.

“Karena awalnya saya mengincar UIN. Tapi, setelah diterima saya senang banget. Alhamdulillah bersyukur kepada Allah,” ungkapnya.

Meski demikian, bukan berarti Fiqri memilih Prodi Perikanan Unpad tanpa pertimbangan apapun. Ia memilih Prodi tersebut karena memiliki latar belakang menjadi pembudidaya ikan laut.

“Saya punya penangkaran ikan kerapu di kampung, ikan-ikan laut gitu, sih,” tuturnya.

Santri asal Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu ini berharap, ia bisa belajar banyak di bangku kuliah dan mengembangkan pengetahuannya.

“Semoga masih nyambung dengan yang saya pelajari sejak kecil, karena yang saya tahu hanya memberi makan ikan, merawat ikan. Semoga pengetahuan saya bisa berkembang,” ujarnya.

Fiqri berpesan kepada teman-temannya yang masih akan berjuang mendapatkan PTN untuk tetap semangat. Tak lupa, ia juga mendoakan mereka bisa lolos di jalur-jalur seleksi berikutnya.

“Jangan patah semangat, jangan down, karena masih banyak jalur-jalur lain. Semoga semuanya nanti diterima di PTN,” terangnya.

Fiqri berterima kasih kepada kedua orang tuanya dan para guru atas semua dukungan yang telah mereka berikan.

“Untuk orang tua saya, terima kasih telah memberikan dukungan, baik dukungan material, emosional, maupun spiritual. Dan untuk para guru, terima kasih atas doa-doanya,” ucapnya.

Sebagai informasi, MA Al-Nahdlah mendaftarkan sembilan santri Kelas XII masuk PTN lewat jalur SNBP 2025. Sayangnya, delapan santri lainnya tidak berhasil lolos lewat jalur ini.

Selanjutnya, sebanyak 20 santri kelas XII MA Al-Nahdlah akan menunggu pengumuman hasil SPAN-PTKIN pada 27 Maret 2025 mendatang.

KH Asrorun Niam Sholeh

KH M Asrorun Niam Sholeh: Introspeksi adalah Awal dari Kesuksesan

Setiap orang pasti tidak luput dari kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bersedia untuk memperbaiki diri dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah ia perbuat.

Akan tetapi, kesediaan untuk memperbaiki diri itu tidak bisa direalisasikan sebelum seseorang melakukan satu hal, yaitu introspeksi. Tanpa introspeksi, seseorang tidak akan mengetahui sesuatu yang perlu ia perbaiki pada dirinya.

Pengasuh Pesantren Al-Nahdlah Depok Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA menyebut bahwa introspeksi adalah awal dari kesuksesan seseorang.

“Ketika orang punya kecenderungan berinstrospeksi, maka arahnya adalah perbaikan diri, terus berikhtiar untuk memperbaiki diri. Itulah awal dari kesuksesan kita,” terang Kiai Ni’am dalam Kajian Rutin kitab Syarah Nashoihul Ibad, Sabtu (8/3/2025) pagi.

Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Fatwa ini menerangkan sebuah hadis yang menyebut tiga golongan yang beruntung. Salah satunya adalah orang yang menangis atas kesalahannya.

“Orang yang menangis karena berbuat kesalahan, berarti ia melakukan introspeksi dengan penuh kesadaran bahwa ia pernah melakukan kesalahan,” tuturnya.

Menurut Kiai Ni’am, menangisi kesalahan yang pernah diperbuat itu lebih baik daripada berbangga atas kebaikan yang pernah dilakukan.

“Karena kebaikan yang kita lakukan belum tentu diterima oleh Allah. Sebaliknya, kalau kesalahan yang kita lakukan, itu sudah pasti merupakan bentuk ketidaktaatan kita kepada Allah,” jelasnya.

Introspeksi tidak memandang besar atau kecil sebuah kesalahan. Sekecil apapun kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, ia perlu menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan introspeksi.

“Menyadari bahwa sekecil apapun kesalahan itu (perlu) kita ingat. Sehingga, kita tidak akan mengulanginya, serta berkomitmen untuk memperbaiki diri,” tegas Kiai Ni’am.

Lebih lanjut, Kiai Ni’am menegaskan bahwa dengan perbaikan diri yang dilakukan secara terus-menerus, seseorang dapat mencapai ‘kesempurnaan’ dalam aktivitasnya.

“Dan komitmen untuk memperbaiki diri di dalam setiap waktu dan langkah akan membawa kita menuju ‘kesempurnaan’ dalam aktivitas kita,” pungkasnya.

Get 30% off your first purchase

X