
Depok, Al-Nahdlah IBS – Pengasuh Pondok Pesantren Al Nahdlah Islamic Boarding School, Prof Dr KH Asrorun Niam Sholeh mengatakan, setiap individu santri memiliki keistimewaan masing-masing.
Ini disampaikan dalam Haflah Akhirussanah Al Nahdlah Islamic Boarding School tahun ajaran 2023/24 di Gedung Pemuda, Pesantren Al Nahdlah, Depok, pada Ahad (23/06/2024) lalu.
“Setiap kita terlahir dengan keistimewaannya, dengan fitrah yang bersifat berbeda dan unik antara yang satu dengan yang lain,” terangnya.
Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Fatwa ini mengutip sebuah hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA berikut:
كلُّ مولودٍ يولَدُ على الفطرةِ فأبواه يُهوِّدانِه أو يُنصِّرانِه أو يُمجِّسانِه
Artinya: Setiap manusia terlahir di atas fitrahnya. Maka, kedua orang tuanya-lah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
KH Asrorun Niam Sholeh menjelaskan, secara potensial semua orang memiliki fitrah atau keistimewaan berperilaku baik serta mudah menerima pengetahuan. Namun, tidak semua fitrah yang sifatnya potensial itu mampu diubah menjadi aktual.
“Fitrah kita adalah fitrah orang baik. Fitrah kita adalah mudah menerima ilmu pengetahuan. Tetapi tidak semua fitrah yang diciptakan oleh Allah Swt bisa diaktualkan oleh masing-masing individu,” bebernya.
Menurut ulama kelahiran Nganjuk ini, keberhasilan seseorang untuk mengaktualkan keistimewaan yang potensial itu dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama adalah kedua orang tua.
“Kedua orang tua sebagai al-madrasah al-ula akan menentukan apakah anak yang punya potensi baik itu memiliki kebaikan yang aktual,” ujarnya.
Dalam pandangan KH Asrorun Niam Sholeh, Orang tua tidak hanya mengambil peran penting dengan cara memberikan teladan bagi anak-anaknya. Lebih dari itu, mereka juga harus bisa menempatkan anak-anaknya di lembaga pendidikan yang tepat. Inilah yang kedua.
“Ibarat benih unggul, tidak semuanya bisa tumbuh dengan baik, sangat tergantung di mana benih tersebut disemai,” ungkapnya.
Apabila benih unggul disemai di tanah yang subur, ia akan tumbuh dengan maksimal. Sebaliknya, apabila disemai di tanah yang tandus, ia tidak bisa tumbuh dengan maksimal.
Di samping orang tua dan lembaga Pendidikan yang tepat, hal ketiga yang mempengaruhi keberhasilan anak dalam mengaktualkan potensinya adalah pendidik yang diibaratkan sebagai petani.
“Bapak dan ibu sudah pada satu trek menempatkan benih unggul di tanah yang subur. (Itu) belum cukup. Bagaimana petaninya punya kemampuan dan kepedulian di dalam merawat dan menumbuhkan benih yang unggul tadi,” paparnya.
Seperti petani, para pendidik dalam proses pembelajaran ada kalanya bersikap keras kepada para murid atau santri. Namun, ada kalanya juga mereka bersikap lembut.
“Bisa jadi, ada kalanya keras memberikan tempaan, sebagaimana tanah biar gembur dia cangkul dengan kerasnya. Ada maksud dan tujuannya,” jelasnya.
KH Asrorun Niam Sholeh menambahkan, “ada kalanya keras untuk kepentingan keteladanan dan pendisiplinan. Tetapi ada kalanya bersahabat untuk kepentingan menumbuhkan hubungan social kita.”
