Depok, Al-Nahdlah IBS – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA mengatakan bahwa seorang guru adalah sumber belajar dalam sebuah proses pembelajaran.
“Kita (guru) yang berinteraksi dengan santri, dengan peserta didik, adalah sumber belajar,” ujarnya dalam Rapat Kerja Pondok Pesantren Al-Nahdlah pada Rabu (9/7/2025) pagi.
Kiai Niam melanjutkan, di dalam proses pendidikan yang terintegrasi sebagaimana yang dipraktekkan di Al-Nahdlah, suatu waktu seorang guru menjadi sumber belajar. Namun di waktu lain guru yang belajar.
Hal ini adalah sebuah keniscayaan karena Al-Nahdlah mengadopsi konsep pendidikan Islam, yakni pembelajaran sepanjang hayat.
“Tidak boleh orang hanya berhenti pada satu titik. Misalnya, hanya sebagai pengajar, atau hanya sebagai pelajar. Saat kita mengajar pun seharusnya kita juga belajar,” jelasnya.
Menurut Ketua MUI Bidang Fatwa ini, pemahaman atas konsep pembelajaran sepanjang hayat meniscayakan adanya komitmen seorang guru untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
“Continous improvement, atau komitmen untuk mengembangkan diri secara terus-menerus,” ulasnya.
Di samping pengembangan pada aspek substantif, yang tidak kalah penting adalah pengembangan pada aspek administratif serta aspek metodologis.
“Aspek administratif dan metodologis itu juga dinamis, kita harus selalu update. Jangan sampai ketika membuat konsideran SK, undang-undangnya sudah dicabut, sudah tidak berlaku,” singgung Kiai Niam.
Ia melanjutkan, “Smart TV di tangan smart teacher itu manfaatnya menjadi berlipat ganda, (misalnya) untuk mengakselerasi proses pembelajaran.”
Dalam pandangan Kiai Niam, teknologi canggih yang disediakan untuk proses pembelajaran tidak akan berguna ketika guru tidak memiliki kemampuan untuk mengoperasikannya.
“Teknologi itu memudahkan proses pembelajaran serta memperbanyak sumber belajar. Untuk mewujudkan itu, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengupgrade diri,” terangnya.
Bagi seorang guru, pengembangan diri menjadi penting agar tidak ada pandangan negatif yang muncul dari para santri atau peserta didik serta demi menjaga kredibilitas guru di depan mereka.
“Mereka akan bilang, ‘oh, guru tidak update, nih.’. Atau ketika guru menyampaikan informasi, dan setelah peserta didik mencari, mereka menemukan bahwa informasi yang kita sampaikan adalah informasi yang keliru, akhirnya muncul ketidakpercayaan peserta didik kepada kita,” bebernya.
Sebagai informasi, Rapat Kerja Pondok Pesantren Al-Nahdlah tahun ini mengangkat tema “Mewujudkan Madrasah Masa Depan, Maju dalam Teknologi, Bermutu dalam Layanan, Mendunia dalam Prestasi”.



