Khutbah Pertama:
الحمد لله الذي أعزّ من أطاعه واتقاه، وأذل من خالف أمره وعصاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، فلا إله سواه، وأشهد أن نبينا وسيدنا محمداً عبده ورسوله، اصطفاه ربه واجتباه. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك محمد، وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد: فاتقوا الله أيها المسلمون -وأطيعوه، وراقبوه في أعمالكم مراقبة من يعلم أنه يعلم السر وأخفى. واتبع فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Pada dekade akhir-akhir ini, dunia disibukkan dengan isu perubahan iklim dan krisis lingkungan. 196 negara anggota PBB dalam Perjanjian Paris sepakat untuk melakukan upaya memperlambat laju pemanasan global di bawah 1,5 – 2 derajat celcius. Namun, hal itu tak mampu diwujudkan.
Di antara dampak pemanasan global terhadap lingkungan kita adalah cuaca yang susah diprediksi, meningkatnya suhu dan gelombang panas yang membawa bencana alam, hilangnya berbagai spesies tumbuhan dan hewan, terjadi kekeringan dan gagal panen. Di wilayah lain terjadi banjir karena meningkatnya air permukaan laut di daerah-daerah pesisir dan lain-lain.
Fenomena ini tentu berdampak pada kondisi sosial masyarakat kita mulai dari perekonomian hingga pada kesehatan. Ini berarti bahwa kerusakan alam dapat mengantar pada rusaknya tatanan sosial masyarakat kita, bahkan mengancam kehidupan dan eksistensi makhluk hidup di muka bumi.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Lingkungan yang terdiri dari benda hidup (biotik) seperti manusia, tumbuhan, hewan. Dan benda tak hidup (abiotik) seperti air, udara (angin), tanah dan lain-lain. Di antara makhluk yang paling berketergantungan dengan lingkungan adalah manusia. Oleh karena itu, manusia diberikan amanah sebagai khalifah dengan fasilitas akal pikiran untuk mengelola, memelihara dan menjaga lingkungan.
Seluruh unsur lingkungan saling berhubungan untuk membentuk suatu kesatuan sistem kehidupan yang disebut ekosistem. Di dalamnya ada produsen (tanaman), ada konsumen (manusia dan hewan), ada pengurai bahan organik (mikroba) dan ada komponen tak hidup (air, udara, mineral).
Terganggunya salah satu unsur lingkungan akan berpengaruh terhadap sistem kehidupan alam semesta yang sudah diciptakan teratur dan seimbang. Dalam Qur’an Surat Al-Mulk ayat 3 – 4, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَـٰنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ (3) ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًۭا وَهُوَ حَسِيرٌ (4)
Artinya: “(Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? (3) Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah (4)”.
Untuk menjaga Mizan tersebut kita diperintahkan berihsan. Berihsan dengan standar minimal adalah tidak merusak ekosistem alam. Berihsan secara maksimal yakni melakukan hal-hal yang sifatnya transformatif untuk kemaslahatan lingkungan sesuai prinsip-prinsip keseimbangan hukum alam atau sunnatullah.
Tidak membuang sampah di sembarang tempat adalah hal yang minimal dalam berihsan, tapi mengelola sampah menjadi hal yang produktif adalah berihsan secara maksimal. Tidak merusak tanaman adalah hal yang minimal, tapi menanam pohon dan merawat bukti ihsan maksimal. Kalau tidak bisa membersihkan jangan mengotori, kalau tidak bisa menanam dan merawat jangan menebang dan merusak. Demikian seterusnya.
Alam ini adalah jembatan untuk keselamatan akhirat sebagaimana terdapat pada Qur’an Surat Al-Qashash ayat 77:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
Artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Karena itu, kita dituntut mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Bumi dan segala isinya disiapkan untuk manusia sebagai pengelolanya, sebagaimana dalam Qur’an Surat Hud ayat 61:
هو أنشاكم من الأرض واستعمركم فيها
Artinya:”Dia telah hidupkan kamu dari bumi (tanah) dan mempersilahkan kamu untuk memakmurkannya.”
Dalam memakmurkan dan memanfaatkan alam ini, kita memerlukan sifat zuhud dalam menjaga bumi. Sikap berlebih-lebihan dalam mengeksploitasi alam adalah perilaku israf dan tabdzir yang disukai oleh setan. Jangankan dalam bermuamalah, dalam beribadah pun sifat itu dilarang oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Anas radhiallahu anhu dan dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim:
كان النبي صلى الله عليه وسلم يغتسل من الجنابة بالصاع إلى خمسة أمداد، ويتوضأ بالمد
Artinya:”Rasulullah ketika mandi (dengan takaran air sebanyak) satu sha’ sampai lima mud berwudhu’ dengan (takaran air sebanyak) satu mud.”
Dalam riwayat ini tergambar bahwa Nabi tidak boros dalam menggunakan air, ketika Nabi berwudhu diperkirakan beliau hanya menggunakan 1 liter air. Dan ketika mandi hanya menggunakan sekitar 5 liter air.
Jamaah Jumat Masjid Al-Nahdlah rahimakumullah.
Kita sejatinya sangat memerlukan kesalehan spiritual dalam mengelola alam untuk kemaslahatan manusia sebagai tujuan hadirnya Syariah agar tidak menimbulkan kerusakan. Karena itu, dalam mengelola alam diperlukan Ekologi Spiritual, yakni berinteraksi dengan lingkungan, dengan “menghadirkan” Tuhan dalam setiap aspek kegiatan. Merasakan bimbingan Tuhan dalam mengelola alam sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Kaidah yang sangat populer La dharara wala dhirarar (tidak boleh membahayakan diri maupun orang lain) menjadi acuan hukum atas keharaman merusak lingkungan, dan memerintahkan sebaliknya yaitu kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الحمد لله على احسانه، والشكر له على عظم نعمه وامتنانه، واشهد ان لا اله الا الله، وحده لا شريك له، تعظيمًا لشأنه، واشهد ان محمدًا عبده ورسوله، وخليله، صلى الله عليه وعلى اله وصحبه، ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، وسلم تسليمًا كثيرًا. اما بعد: فاتقوا الله عباد الله – حق التقوى، واستمسكوا من الاسلام بالعروة الوثقى، عباد الله، لا يستطيع كائنًا من كان من انس او جان ان يجلب رحمةً او يمنعها عن خلق الله، قال تعالى: ما يفتح الله للناس من رحمةٍ فلا ممسك لها وما يمسك فلا مرسل له من بعده وهو العزيز الحكيم (فاطر: 2)
فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته، واعلموا أن الله أمر بأمر بدأ فيه بنفسه وثنى بملائكته بقدسه، وقال تعالى إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن بقية الصحابة والتابعين وتابع التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين، وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين وانصر عبادك الموحدين المخلصين، وأخذل من خذل المسلمين ودمر أعدائنا وأعداء الدين وأعل كلمتك إلى يوم الدين. اللهم ادفع عنا البلاء والوباء والزلازل والمحن وسوء الفتن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا أندونيسيا خاصة وعن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، واسألوه من فضله يعطكم، ولذكر الله أكبر
Editor: M. Naufal Hisyam



