Nashoihul Ibad KH M Asrorun Niam Sholeh

Kajian Nashoihul Ibad: 5 Petuah Bijak dari Taurat yang Dinukil oleh Hasan Al-Basri

Hasan al-Basri (w 110 H) adalah seorang ulama dari generasi tabi’in yang dikenal memiliki banyak petuah bijaksana. Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) dalam Nashā`ihul ‘Ibād menyebutkan sebuah riwayat dari Al-Basri tentang lima petuah bijak yang ia dapatkan dari kitab Taurat.

5 Petuah Bijak

Pertama, “sesungguhnya kekayaan terdapat di dalam sifat qana’ah” (إن الغنية في القناعة). Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab syarahnya menjelaskan bahwa yang dimaksud al-ghaniyyah adalah kecukupan nafkah (الإكتفاء بالنفقة).

“Nggak ada orang yang lebih kaya dibandingkan dengan orang qanaah, yang menerima atas apa yang sudah ditetapkan oleh Allah,” ujar Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (24/08/2024) lalu.

Menurut Kiai Ni’am, hakikat sifat qana’ah adalah ridlo dengan ketetapan Allah, serta rasa tenang ketika harapan yang dimiliki tidak terwujud. Cara pandang seperti Itulah yang melahirkan kekayaan.

“Banyak harta kalau cara pandangnya itu adalah rakus, tamak, berapapun nggak akan melahirkan sukūn al-qalbi, nggak akan melahirkan ketenangan jiwa,” imbuhnya.

Petuah bijak yang kedua, “Sesungguhnya keselamatan terdapat di dalam kesendirian” (إن السلامة في العزلة). Adapun ‘keselamatan’ yang dimaksud, menurut Al-Bantani, adalah selamat dari penyakit-penyakit lisan.

“Jadi, keselamatan dari ucapan dan omongan yang tidak berguna, itu dengan menyendiri,” terang Kiai Ni’am.

Akan tetapi, Kiai Ni’am menggarisbawahi, menyendiri bukan berarti menjauhi teman. Menyendiri yang dimaksud adalah menghindari nongkrong yang tidak berguna.

“Umumnya, orang yang sering nongkrong tidak berguna itu sering salah ucap, apa saja diomongkan. Entah itu menceritakan kesalahan orang, menggosip, julid, sampai kemudian ngumpat dan menyakiti,” tegasnya.

Petuah yang ketiga, “Sesungguhnya kehormatan diri itu ada saat melarikan diri dari hawa nafsu” (إن الحرمة في وفض الشهوات). Maksudnya adalah dengan meninggalkan dorongan-dorongan negatif untuk berbuat maksiat.

Keempat, “Sesungguhnya kebahagiaan itu terdapat di hari yang panjang” (إن التمتع في أيام طويلة). Al-Bantani menjelaskan, maksud dari ‘hari yang panjang’ adalah hari ketika di akhirat nanti, yang terdapat kenikmatan abadi berupa surga.

“Sesungguhnya, kebahagiaan yang hakiki itu orientasinya adalah di akhirat, kebahagiaan di akhirat. Jangan tertipu mengejar kebahagiaan yang pendek, yaitu kebahagiaan dunia,” tutur Kiai Ni’am.

Petuah bijak yang terakhir atau kelima, “Sesungguhnya kesabaran itu di hari yang sedikit” (إن الصبر في أيام قليلة). Berdasarkan penjelasan Al-Bantani dalam kitabnya, kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran menghadapi sulitnya mengerjakan perintah, menanggung penderitaan, serta sulitnya menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Sementara itu, yang dimaksud ‘hari yang sedikit’ adalah hari di dunia.

 “Jadi, kenapa disebut hari sedikit? Karena kehidupan dunia itu tidak sebanding dengan kehidupan akhirat yang akan kita tempuh nanti,” beber Kiai Ni’am.

Itulah 5 Petuah Bijak yang dikutip oleh Hasan Al-Basri dari kitab Taurat, dan selanjutnya dituliskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Nashoihul Ibad.

Kaligrafi kalimat tayyibah basmalah

Baca 7 Kalimat Tayyibah Ini Agar Memperoleh Kedudukan Mulia di Sisi Allah

Allah Swt mendorong para hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan agar memperoleh Ridho-Nya. Banyak sekali amal kebaikan yang dapat dikerjakan oleh manusia, di antaranya adalah dengan berdzikir mengingat Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) dalam Nashoihul Ibad menuliskan sebuah riwayat dari Al-Faqih Abu al-Laits tentang tujuh kalimat tayyibah, yang jika dihafal dan diamalkan, maka ia akan mengantarkan pembacanya menuju kedudukan yang mulia di Sisi Allah Swt.

“Al-Faqih Abu al-Laits berkata: barang siapa menghafal tujuh kalimat (tayyibah) maka ia akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan malaikat-Nya,” terang Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (24/8/2024) lalu.

Selain itu, orang yang membaca tujuh kalimat yang dimaksud juga akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya, sekalipun dosanya sebanyak buih di lautan. Ia juga akan menemukan manisnya taat, hidup dan matinya akan menjadi kebaikan.

7 Kalimat Tayyibah

Pertama, kalimat Basmalah (بسم الله الرحمن الرحيم) yang dibaca setiap kali hendak mengerjakan suatu kebaikan.

“Setiap memulai perbuatan baik membaca basmalah. jangan terlewat,” ujar Kiai Ni’am. “Mau mengangkat barang, (baca) Bismillah. Memulai langkah keluar dari rumah untuk pergi ke kantor, (baca) Bismillah.”

Kedua, kalimat Hamdalah (الحمد لله رب العالمين) yang dibaca setelah menyelesaikan suatu aktivitas yang baik.

“Setiap menyelesaikan setiap aktivitas, tentu aktivitas yang baik, dengan memuji Allah, yaitu (mengucapkan) Alhamdulillah,” tutur Kiai Ni’am.

Ketiga, kalimat Istighfar (أستعفر الله العظيم) ketika keluar ucapan yang tidak baik dari lisan atau mulutnya. Misalnya, umpatan buruk, menghina orang lain, membicarakan kejelekan orang lain, dan semacamnya.

Keempat, kalimat Insya Allah (إن شاء الله) yang dibaca ketika merencanakan sesuatu sebagai bentuk penyandaran diri kepada kehendak Allah.

“Karena pada hakikatnya kita ini hanya mampu berikhtiar. Kekuasaan mutlak itu hanya pada Allah Swt,” jelas Kiai Ni’am.

Lebih lanjut, Kiai Ni’am menjelaskan bahwa kalimat Insya Allah merupakan kalimat pendek yang memiliki dimensi spirituaitas yang tinggi serta melahirkan optimisme.

“Ini kalimat pendek tetapi menyebabkan ketahanan tubuh kita. Jadi menyebabkan ketahanan fisik dan psikis kita, mentalitas kita, mentalitas pantang menyerah,” terangnya.

Kelima, kalimat Hauqolah (لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم) yang dibaca ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai. Kalimat tersebut memiliki makna ‘Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan daya dan kekuatan Allah’.

Keenam, kalimat Tarji’ (إنا لله وإنا إليه راجعون) yang dibaca ketika seseorang ditimpa suatu musibah. Menurut Kiai Ni’am, musibah tidak hanya berupa hal yang tidak menyenangkan, melainkan bisa juga berupa hal yang menyenangkan.

“Musibah umumnya musibah yang nggak bagus. tapi bisa jadi musibah atau ujian (berupa) kenikmatan,” bebernya.

Kalimat Tarji’ merupakan manifestasi dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia pada hakikatnya berasal dari Allah dan kelak akan kembali kepada-Nya.

Ketujuh atau terakhir, kalimat Tahlil (لأ إله إلا الله محمد رسول الله) yang dibaca terus-menerus sepanjang siang dan malam.

“Nggak boleh lepas. Dan itu menjadi dzikir keseharian kita, dzikir lisan, dzikir qolbu, sepanjang waktu. Nggak mesti harus sila di sajadah, kemudian baru memulai dzikir,” tegas Kiai Ni’am.

Itulah tujuh kalimat yang jika seseorang mampu menghafal dan membacanya secara istiqomah, maka tujuh kalimat itu dapat menjadi wasilah baginya untuk memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt.

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Mengisi Kemerdekaan Dengan Menjadi Manusia Merdeka

Masyarakat Indonesia sedang merayakan Hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024 lalu. Sebagai umat Islam, tidak ada salahnya jika melakukan refleksi terkait nikmat kemerdekaan yang telah diraih oleh Bangsa Indonesia. Di antara bentuk refleksi tersebut adalah berupa khutbah Jum’at yang bertema kemerdekaan berikut ini:

Khutbah Pertama:

الحمد لله رب العالمين ,به نستعين وعلى أمور الدنيا والدين, والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أشهد أن لآإله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمد عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد. أما بعد.

فيا عباد الله, أصيكم وإياي بتقوى الله. كما قال تعالى في كتابه الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. يآءيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. وقال أيضا: يآءيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد, واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala limpahan Rahmat dan Karunia-Nya. Rahmat dan Karunia yang tiada habisnya, yang seandainya manusia paling pandai berhitung mencoba menghitung jumlahnya, ia tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada suri teladan kita Nabi Muhammad Saw., yang telah menuntun dan membina umatnya hingga akhir hayatnya.

Di antara Rahmat Allah Swt. yang patut kita syukuri adalah kemerdekaan negara kita tercinta Republik Indonesia. Tepat 79 tahun yang lalu, Jum`at 17 Agustus 1945, sebuah teks singkat, yang sekarang kita kenal sebagai teks proklamasi, dibacakan oleh Ir. Soekarno. Teks singkat, yang tidak akan pernah terbaca tanpa perjuangan seluruh rakyat Indonesia, yang bahu-membahu mengusir penjajah, mengorbankan segenap jiwa dan raga mereka, mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Hadirin yang berbahagia,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka memiliki arti bebas. Merdeka juga diartikan sebagai berdiri sendiri, tidak bergantung pada pihak lain. Bangsa yang merdeka artinya bangsa yang bebas dari penjajahan, dari penindasan, dari kesewenang-wenangan bangsa lain. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang bebas menentukan arah dan tujuan sendiri dan tidak lagi terikat dengan arahan dari bangsa lain.

Meski dikatakan telah bebas, tidak lagi tertindas, tidak lagi terjajah, perjuangan pasca-kemerdekaan bisa jadi lebih berat dibandingkan perjuangan pada masa sebelum merdeka. Mengapa? Karena ketika sebuah bangsa telah merdeka, bangsa itu menjadi bangsa yang mandiri, menentukan nasibnya sendiri, dan tidak lagi menggantungkan diri pada pihak lain. Bangsa yang merdeka harus bersedia untuk selalu mempersiapkan diri, meningkatkan kualitas, agar tidak salah menentukan arah.

Di saat seperti itu, lawan yang dihadapi bukan lagi penjajah, lawan yang dihadapi kini adalah diri sendiri, bangsa sendiri. Melawan bangsa sendiri bermakna melawan kebodohan masyarakat, melawan kemiskinan, kejahatan, keegoisan, serta hal-hal negatif lain yang harus diperangi agar menjadi bangsa yang lebih baik. Tentu ini menjadi tugas sangat berat. Barangkali ini yang Ir. Soekarno maksud saat ia mengatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Sebagai bagian dari bangsa yang luhur, setiap warga negara Indonesia, termasuk kita semua, seyogyanya mengambil bagian dalam perjuangan di era pasca-kemerdekaan. Secara khusus, bagi umat muslim Indonesia, perjuangan menjaga dan merawat kemerdekaan ini juga merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah yang telah menganugerahkan nikmat luar biasa yang satu ini. Kita pun bisa melakukannya dengan berbagai cara, sesuai dengan keahlian masing-masing.

Ma’asyiral hadlirin rahimakumullah,

Yang tak kalah penting, di samping merawat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita sebagai individu yang memiliki keistimewaan masing-masing juga harus terus berupaya menjadi seorang manusia yang merdeka. Sebagaimana bangsa yang merdeka, manusia yang merdeka juga bebas menentukan arah hidup dan membangun cita-cita. Ia berdiri sendiri untuk meniti jalan hidup sesuai arah yang telah ia tentukan. Nasib orang merdeka sepenuhnya berada di tangannya, tidak lagi bergantung pada orang lain.

Oleh karena itu, untuk menyongsong kemerdekaan itu, setiap kita harus mempersiapkan diri dengan cara memerdekakan diri dari kebodohan, dari belenggu potensi-potensi negatif di dalam diri, dan merdeka dari berbagai hal negatif lainnya. Itulah yang sedang kita lakukan di Pondok Pesantren Al-Nahdlah tercinta ini. Di sinilah kita ditempa agar kelak menjadi manusia merdeka.

Kita mengaji dan mengkaji agar merdeka dari kebodohan. Kita diajarkan berbagi dengan sesama agar merdeka dari sifat kikir. Kita diajarkan hidup sederhana agar merdeka dari sifat rakus dan tamak yang seringkali merugikan banyak orang lain. Kita diajarkan untuk menerima konsekuensi dari segala tindakan kita agar kelak menjadi orang yang bisa bertanggung jawab, terkhusus tanggung jawab pada diri sendiri. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:  kullukum ra’in wa kullukum mas`ulun ‘an ra’iyyatihi, setiap kalian adalah pengemban tanggung jawab dan kelak akan diminta pertanggungjawaban atas semua tanggung jawab itu.

Gelar manusia merdeka tidak bisa diraih dalam waktu singkat. Belajar menjadi manusia merdeka terus dilakukan hingga akhir hayat. Sehingga, tidak hanya menjadi manusia merdeka di dunia, melainkan juga menjadi manusia merdeka di akhirat kelak.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. يآءيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم, لايضركم من ضل إذا اهتديتم, إلى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم تعملون.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم, ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم, وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم, وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الرحمين.

Khutbah Kedua:

 الحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رُسُلِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى, وَعَلىَ خَاتِمِهِمْ مُحَمَّدٍ الْمُجْتَبَى, وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَئِمَّةِ الْهُدَى, وَمَنْ بِهِمْ اقْتَدَى فَاهْتَدَى. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلَّا اللّه وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْد

فَيَا عباد الله, أُصِيْكُمْ وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللّه تَعَالى  فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ, بِسْمِ اللّهِ الرّحْمنِ الرّحِيْمِ, ٰيآيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا, يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَعُوْذُ بِاللّه مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ. بِسْمِ اللّه الرّحمن الرّحِيْمِ. إِنَّ اللّه وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ آمَنُوْا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا. اللّـهُمَّ صَلّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا صَلّيْتَ عَلَى سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيّدِنا إبراهيم وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سيّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

Get 30% off your first purchase

X