Sudah Lolos Jalur SNBP, Santri Kelas XII Tetap Ikuti Try Out SNBT IV

Depok, Al-Nahdlah IBS – 19 santri kelas XII MA Al-Nahdlah penerima Beasiswa Santri Baznas 2025 mengikuti Try Out SNBT IV pada Sabtu (11/04/2026) pagi.

Ini merupakan Try Out terakhir sekaligus menjadi penutup rangkaian program Kegiatan Pembelajaran (KP) Pendampingan SNBT 2026 yang telah dimulai sejak Oktober 2025 silam.

Pada saat Try Out ini dilaksanakan, sejumlah santri telah dinyatakan lolos seleksi Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) maupun SPAN-PTKIN.

Pengawas TO IV Apriliyanto mengatakan, santri tetap perlu mengerjakan soal-soal dengan serius, sekalipun mereka telah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat jalur SNBP maupun SPAN-PTKIN.

“Tetap kerjakan dengan serius, karena materi di situ biasanya akan dipelajari pada saat kuliah,” tutur Apriliyanto.

Materi-materi yang dimaksud di antaranya adalah Matematika, Logika, Bahasa Indonesia, hingga Bahasa Inggris.

Faktanya, di beberapa PTN, materi-materi tersebut biasanya memang akan menjadi mata kuliah pada semester-semester awal sebagai mata kuliah dasar.

Sebagai informasi, 13 santri Kelas XII MA Al-Nahdlah telah diterima di PTN lewat jalur SNBP dan SPAN-PTKIN. Dengan rincian dua santri dari jalur SNBP dan 11 santri dari jalur SPAN-PTKIN.

Mereka tersebar ke empat PTN, yakni Universitas Padjajaran Bandung (1 santri), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (10 santri), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1 santri), dan UIN Sunan Gunung Djati (1 santri).

Jumlah tersebut jauh melebihi pencapaian MA Al-Nahdlah pada 2025 atau tahun lalu yang hanya mengirimkan empat santri, masing-masing satu santri dari jalur SNBP dan tiga santri dari jalur SPAN-PTKIN.

KH Abdullah Mas’ud: Al-Nahdlah Bagian dari Ruh Perjuangan NU

Depok, Al-Nahdlah IBS – Ketua Yayasan Elsas KH Abdullah Mas’ud mengatakan bahwa Pondok Pesantren Al-Nahdlah adalah bagian dari ruh perjuangan Nahdlatul Ulama (NU).

“Hari ini 31 Januari bertepatan dengan lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama. 31 Januari 1926. Al-Nahdlah ini bagian dari ruh perjuangan Nahdlatul Ulama,” ucapnya dalam acara peluncuran ‘20 Tahun Cahaya Al-Nahdlah’ pada Sabtu (31/01/2026) pagi.

Sebagaimana diketahui, peluncuran rangkaian kegiatan peringatan 20 tahun kelahiran Al-Nahdlah hari ini berbarengan dengan perayaan satu abad NU.

“NU lahir memberikan solusi bagi masyarakat, bagi warga negara Indonesia,” tutur Kiai Mas’ud.

Ia menerangkan, banyak peristiwa bersejarah yang menghiasi perjalanan ormas Islam yang didirikan di Surabaya tersebut. Salah satunya adalah Resolusi Jihad yang lahir pada 22 Oktober 1945.

“Hari ini bukan lagi Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh NU, tapi resolusi peradaban,” ujar Kiai Mas’ud.

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang Selatan ini menceritakan satu memori pada saat pendirian Al-Nahdlah yang terekam dalam ingatannya.

“Jadi, pada saat peresmian Al-Nahdlah, tertulis jelas slogan ‘Momentum Membangun Peradaban’. Saya masih ingat,” bebernya.

Menurut Kiai Mas’ud, hal itu menunjukkan bahwa membangun peradaban merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Al-Nahdlah.

“Oleh karena itu, hari ini kita hadir di tempat ini untuk mengenang kembali (bahwa) awal berdirinya pesantren Al-Nahdlah ini (adalah) untuk mengemban misi peradaban,” paparnya.

Kiai Mas’ud berharap Al-Nahdlah dapat terus melahirkan kader-kader yang mampu mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.

“Hari ini, sudah mulai terlihat alumni Al-Nahdlah berperan di berbagai bidang, di posisi masing-masing. Ada yang menjadi pimpinan organisasi pelajar Nasional,” jelasnya.

Upacara simbolis peluncuran rangkaian acara “20 Tahun Cahaya Al-Nahdlah”

Untuk diketahui, peluncuran ‘20 Tahun Cahaya Al-Nahdlah’ menjadi permulaan rangkaian acara peringatan 20 tahun kelahiran pesantren yang berdiri pada 2006 ini. Rencananya, acara puncak peringatan akan digelar pada Mei 2026 mendatang.

Upacara Hari Santri Nasional 2025, Ini Tiga Pesan Kepala Kepengasuhan Pesantren Al-Nahdlah

Depok, Al-Nahdlah – Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok menggelar upacara perayaan Hari Santri Nasional pada Rabu (22/10/2025) pagi di Lapangan Serbaguna Pesantren Al-Nahdlah.

Upacara tersebut dihadiri oleh seluruh unit lembaga yang berada di bawah naungan eLSAS Foundation, yakni SDIT An-Nahdlah, MTs Al-Nahdlah, dan MAS Al-Nahdlah.

Kepala Kepengasuhan Pesantren Al-Nahdlah KH Miftahul Huda, Lc dalam amanat upacara menyampaikan tiga pesan untuk para santri, khususnya santri Al-Nahdlah.

“Pertama, teladani semangat jihad para ulama yang telah memberikan kemerdekaan bagi kita,” tutur Kiai Miftah.

Ia menjelaskan, kemerdekaan itu tidak hanya berupa kemerdekaan fisik dari belenggu penjajahan, melainkan juga kemerdekaan akal dari belenggu kebodohan.

“Perjuangan atau jihad sekarang ini tidak hanya dengan kekuatan fisik, kekuatan senjata, melawan para musuh. Jihad yang (juga) harus kita korbankan adalah jihad untuk memerangi kebodohan, (dengan) sungguh-sungguh dalam belajar,” terang Kiai Miftah.

Ia menyebut sebuah riwayat yang mengatakan bahwa keringat yang menetes dari seorang penuntut ilmu atau santri, setiap kekuatan yang ia kerahkan, dan setiap tinta yang ia goreskan untuk belajar, akan dicatat sebagai pahala yang senilai dengan darah para syuhada.

“Kedua, kita sebagai santri di tengah disrupsi informasi, yang pertama harus kita kokohkan adalah iman kita,” beber Kiai Miftah.

Ia mengibaratkan keimanan dengan pohon. Pohon membutuhkan pupuk dan air yang cukup agar ia tumbuh dengan baik. Begitu pula keimananan seseorang juga harus dipupuk. Dan pupuk keimanan adalah ilmu yang mendalam.

“Tanpa ilmu yang mendalam, iman kita tidak akan kuat. (Sebagaimana) tanpa pupuk yang baik, tanpa air yang cukup, pohon akan mati. Sekalipun tidak mati ia akan kering dan tidak berkembang dengan baik,” ujar Kiai Miftah.

Puncaknya, keimanan akan makin sempurna ketika itu diwujudkan dengan amal soleh. Seperti berakhlak mulia, menghormati orang tua dan guru, dan sebagainya.

“Kita harus bisa menyeimbangkan keimanan yang kokoh, ilmu yang mendalam, dan amal yang baik,” tegas Kiai Miftah.

Pesan ketiga atau terakhir dari Kepala Kepengasuhan untuk para santri adalah mengisi ruang digital dengan konten yang moderat.

“Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Tetapi, konten dan isi media sosial saat ini masih sedikit sekali konten yang diwarnai oleh para mujahid yang toleran dan moderat. Konten di ruang digital masih didominasi oleh mujahid ekstrem,” papar Kiai Miftah.

Oleh karena itu, ia berpesan agar para santri memanfaatkan dan mengisi ruang digital sebaik mungkin dengan konten yang moderat dan toleran, yang menunjukkan bahwa islam adalah rahmatan lil alamin.

Get 30% off your first purchase

X