Khutbah Jumat: Kemerdekaan Itu Butuh Perjuangan

Khutbah Jumat ini mengajak para jamaah untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia, serta mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang ada di baliknya.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَعَزَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَذَلَّ الْكَافِرِيْنَ، وَنَصَرَ عِبَادَهُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ سَعَادَةَ الْمُتَّقِيْنَ، وَفِي عِصْيَانِهِ هَلَاكَ الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ دَرْبِهِمْ وَاتَّبَعَ نَهْجَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أما بعد.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan cara mematuhi segala ketentuan-Nya, baik yang berupa perintah untuk mengerjakan kebaikan maupun perintah untuk meninggalkan kemaksiatan.

Tiada cara yang lebih sempurna untuk membuktikan rasa syukur kita atas segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah Swt selain menggunakan nikmat tersebut untuk mengerjakan kebaikan, dan juga sebaliknya, tidak menggunakan nikmat tersebut untuk berbuat kemaksiatan.

Setiap detik waktu kita adalah nikmat dari Allah, setiap hembusan nafas kita adalah nikmat dari Allah, setiap tetes darah yang mengalir di tubuh kita adalah nikmat dari Allah, dan masih banyak nikmat dari Allah lainnya yang tidak akan mampu kita sebutkan semuanya satu persatu.

Sepanjang kita masih bisa hidup, bisa bernafas, sepanjang itu pula kita patut berkomitmen untuk terus meningkatkan ketakwaan kita. Hingga pada saat ujung waktu kita, pada saat kita menghembuskan nafas terakhir nanti, kita meraih keadaan husnul khotimah.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Sebentar lagi, kita sebagai bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. Perayaan yang dihelat untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu dalam melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, mengingat kembali bahwa kemerdekaan bangsa ini bukanlah hadiah, melainkan diraih dengan berdarah-darah.

Semua elemen saling bahu-membahu. Ada prajurit yang selalu siap bertaruh nyawa dalam pertempuran dengan mengangkat senjata mereka. Ada diplomat yang selalu siap ditawan atau bahkan dibunuh saat mendatangi markas penjajah demi memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur perundingan. Semua hanya demi satu kepentingan, yaitu mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat atas nasib sendiri.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Saat kita membicarakan kemerdekaan, terlebih dulu kita perlu memahami makna kata ‘merdeka’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki tiga makna.

Pertama, merdeka dimaknai sebagai ‘bebas’ dan ‘berdiri sendiri’. Bebas dari penjajahan, bebas dari perbudakan, dan semacamnya.

Kedua, merdeka dimaknai sebagai ‘tidak terkena tuntutan’ atau ‘terlepas dari tuntutan’. Tidak ada tuntutan atau beban yang ditanggung.

Ketiga, merdeka dimaknai sebagai ‘leluasa’ atau ‘tidak bergantung kepada pihak tertentu’. Merdeka berarti menggantungkan nasib pada diri sendiri dan tidak memerlukan pihak lain.

Dengan demikian, bangsa Indonesia merdeka bermakna bangsa Indonesia bebas dari penjajahan, terlepas dari tuntutan yang memaksa mereka tunduk, serta tidak lagi bergantung kepada penjajah dan mampu menentukan nasib sendiri.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Dalam skala yang terkecil, manusia sebagai individu juga perlu menjadi merdeka. Dan manusia yang merdeka adalah manusia yang bebas dari penjajahan yang berupa kebodohan, kemiskinan, perbudakan hawa nafsu, dan semacamnya.

Sebagaimana suatu bangsa yang harus berjuang secara berdarah-darah untuk meraih kemerdekaan, seorang manusia juga pasti memerlukan perjuangan yang sama untuk menjadi manusia merdeka.

Misalnya, untuk merdeka dari kebodohan, seseorang tidak bisa belajar hanya ala kadarnya, tidak bisa belajar hanya ketika disuruh, hanya ketika ada tugas. Seseorang yang ingin merdeka dari kebodohan harus belajar secara berdarah-darah, belajar secara tekun, dan yang paling penting adalah konsisten atau istiqomah.

Begitu pula dengan seseorang yang ingin merdeka dari kemiskinan sehingga dapat mencukupi kebutuhannya, ia perlu bekerja secara berdarah-darah. Ia perlu memutar otak agar bisnis tetap jalan, bangun pagi buta agar tidak telat masuk kerja, panas-panasan maupun hujan-hujanan untuk menuju tempat kerja, atau berdesak-desakan di angkutan umum demi menghemat pengeluaran.

Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa perjuangan. Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa cucuran keringat. Setiap kemerdekaan membutuhkan perjuangan atau usaha yang sungguh-sungguh. Meski demikian, semua itu akan terbayar ketika kita berhasil lepas dari kebodohan, lepas dari kemiskinan, dan lepas dari segala bentuk penjajahan lainnya.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Akan tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa di samping berjuang dan berusaha secara berdarah-darah, sebagai seorang hamba, kita juga perlu berdoa, memohon pertolongan kepada Dzat yang Maha Berdiri Sendiri, Dzat yang menjadi sandaran seluruh makhluk-Nya, yaitu Allah Swt.

Di satu sisi, kita berjuang secara berdarah-darah untuk memerdekakan diri dari ketergantungan pada pihak lain, kepada sesama makhluk. Dan di sisi lain, kita sebagai hamba menggantungkan diri kepada Allah Swt.

Dengan kata lain, kita membebaskan diri dari ketergantungan atau penghambaan kepada makhluk, dan menuju ketergantungan atau penghambaan total kepada Allah Swt. Tath-hir an-nafsi min ‘ibadatil khalqi ila ‘ibadatil khaliq. Dan konsep kemerdekaan seperti ini selaras dengan konsep tauhid dalam Islam.

Sehebat apapun manusia, ia tetaplah hamba Sang Pencipta, tetap butuh Pertolongan dan Kasih Sayang-Nya. Sebagaimana Firman Allah dalam Qs. Fathir ayat 15, Ya ayyuha an-nas antum al-fuqara`u ila Allahwa Allahu huwa al-Ghaniyyu al-Hamid. Wahai manusia, kalian semua memerlukan Allah. Hanya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تلاوته إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

ِ عِبَادَ اللّٰهِ،إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Upacara Hari Pramuka, KH Miftahul Huda: Pramuka Harus Didasari Rasa Cinta

Depok, Al-Nahdlah IBS – Kepala Kepengasuhan Pesantren Al-Nahdlah KH Miftahul Huda, Lc mengatakan bahwa kegiatan Pramuka harus didasari dengan rasa cinta dari dalam hati masing-masing, bukan karena terpaksa.

“Pramuka itu harus didasari dengan rasa cinta dari dalam hati,” ujarnya dalam Upacara Peringatan Hari Pramuka di Lapangan Serbaguna Gedung Pusat Al-Nahdlah, Kamis (14/8/2025) pagi.

Menurut Kiai Miftah, menjadi seorang Pramuka sejati dengan menjalankan seluruh Dasa Dharma Pramuka itu berat saat tidak didasari dengan rasa cinta dari dalam hati.

“Tetapi, ketika diawali dari hati yang cinta, dengan tidak terpaksa, tidak karena disuruh, Insya Allah kita akan dimudahkan dalam merealisasikan Dasa Dharma Pramuka,” tuturnya.

Kiai Miftah melanjutkan, jika seseorang yang melakukan sesuatu dalam keadaan terpaksa, maka sesuatu yang ia lakukan tadi tidak akan maksimal.

“Orang yang belajar karena dipaksa, apakah belajarnya akan maksimal?” Kiai Miftah melemparkan pertanyaan kepada peserta upacara yang disusul dengan jawaban ‘tidak’ dari para peserta.

Oleh karena itu, Kiai Miftah mengajak para peserta upacara untuk menata hati masing-masing, untuk menanamkan rasa cinta pada segala aktivitas yang dilakukan.

“Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, mari kita tata hati masing-masing. Kita lakukan segala aktivitas dengan penuh kesabaran, menyelesaikan tugas karena Allah, karena cinta kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada orang tua, kepada sesama, bahkan cinta kepada seluruh alam semesta,” tegasnya.

Kiai Miftah juga mengutip sebuah Hadis Nabi Saw yang berisi tentang perintah mencintai seluruh makhluk yang ada di bumi.

Irhamu man fil ardli, yarhamkum man fi as-sama`i. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan Menyayangimu,” terangnya.

Sebagai informasi, dalam rangka memperingati Hari Pramuka, Pesantren Al-Nahdlah menggelar upacara gabungan seluruh unit, mulai dari SDIT An-Nahdlah, MTs Al-Nahdlah, hingga MA Al-Nahdlah.

Upacara ini sekaligus sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan Peringatan Hari Pramuka dan Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia yang akan berlangsung hingga Senin (18/8/2025) nanti.

KH M Asrorun Niam Sholeh: Hakikat Merdeka Adalah Tidak Bergantung pada Makhluk

Depok, Al-Nahdlah IBS – Bangsa Indonesia akan memperingati hari ulang tahun ke-80 kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2025 nanti. Ini menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, MA mengatakan bahwa hakikat komitmen kemerdekaan adalah tidak bergantung kepada yang lain.

“Komitmen kemerdekaan itu pada hakikatnya adalah kita tidak mau bergantung, tidak mau dijajah, diperbudak,” ujarnya dalam Kajian Mingguan Nashoihul Ibad, Sabtu (2/8/2025) pagi.

Orang yang merdeka adalah orang yang tidak bergantung kepada orang lain. Sebagaimana bangsa yang merdeka adalah bangsa yang tidak bergantung kepada bangsa lain.

Menurut Kiai Niam, kemerdekaan yang seperti itu adalah hakikat dari Tauhid, yakni memerdekakan diri atau membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk.

“Ini hakikat Tauhid, membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama (makhluk) menuju penghambaan total kepada Allah Swt,” jelasnya.

Ketua MUI Bidang Fatwa ini juga menyebutkan definisi lain dari tauhid, yakni tahrirul qalbi min ‘ibadatil khalqi ila ‘ibadatil khaliq, yang bermakna membebaskan hati dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Khalik.

“Kita tidak boleh menggantungkan diri, merasa faqir (butuh), meminta-minta kepada sesama makhluk,” tegasnya.

Kiai Niam melanjutkan, manusia sebagai makhluk tidak boleh menggantungkan diri pada makhluk lain lantaran sesama makhluk mempunyai problem yang sama.

“Kalau kita bergantung kepada sesama makhluk (saat menghadapi masalah), maka masalah tidak akan selesai,” tuturnya.

Kiai Niam mengimbuhkan, “wong yang kita jadikan tempat bergantung juga menghadapi masalah yang sama.”

Get 30% off your first purchase

X