Khutbah Jumat: Kemerdekaan Itu Butuh Perjuangan

Khutbah Jumat ini mengajak para jamaah untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia, serta mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang ada di baliknya.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَعَزَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَذَلَّ الْكَافِرِيْنَ، وَنَصَرَ عِبَادَهُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ سَعَادَةَ الْمُتَّقِيْنَ، وَفِي عِصْيَانِهِ هَلَاكَ الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ دَرْبِهِمْ وَاتَّبَعَ نَهْجَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أما بعد.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan cara mematuhi segala ketentuan-Nya, baik yang berupa perintah untuk mengerjakan kebaikan maupun perintah untuk meninggalkan kemaksiatan.

Tiada cara yang lebih sempurna untuk membuktikan rasa syukur kita atas segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah Swt selain menggunakan nikmat tersebut untuk mengerjakan kebaikan, dan juga sebaliknya, tidak menggunakan nikmat tersebut untuk berbuat kemaksiatan.

Setiap detik waktu kita adalah nikmat dari Allah, setiap hembusan nafas kita adalah nikmat dari Allah, setiap tetes darah yang mengalir di tubuh kita adalah nikmat dari Allah, dan masih banyak nikmat dari Allah lainnya yang tidak akan mampu kita sebutkan semuanya satu persatu.

Sepanjang kita masih bisa hidup, bisa bernafas, sepanjang itu pula kita patut berkomitmen untuk terus meningkatkan ketakwaan kita. Hingga pada saat ujung waktu kita, pada saat kita menghembuskan nafas terakhir nanti, kita meraih keadaan husnul khotimah.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Sebentar lagi, kita sebagai bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. Perayaan yang dihelat untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu dalam melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, mengingat kembali bahwa kemerdekaan bangsa ini bukanlah hadiah, melainkan diraih dengan berdarah-darah.

Semua elemen saling bahu-membahu. Ada prajurit yang selalu siap bertaruh nyawa dalam pertempuran dengan mengangkat senjata mereka. Ada diplomat yang selalu siap ditawan atau bahkan dibunuh saat mendatangi markas penjajah demi memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur perundingan. Semua hanya demi satu kepentingan, yaitu mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat atas nasib sendiri.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Saat kita membicarakan kemerdekaan, terlebih dulu kita perlu memahami makna kata ‘merdeka’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki tiga makna.

Pertama, merdeka dimaknai sebagai ‘bebas’ dan ‘berdiri sendiri’. Bebas dari penjajahan, bebas dari perbudakan, dan semacamnya.

Kedua, merdeka dimaknai sebagai ‘tidak terkena tuntutan’ atau ‘terlepas dari tuntutan’. Tidak ada tuntutan atau beban yang ditanggung.

Ketiga, merdeka dimaknai sebagai ‘leluasa’ atau ‘tidak bergantung kepada pihak tertentu’. Merdeka berarti menggantungkan nasib pada diri sendiri dan tidak memerlukan pihak lain.

Dengan demikian, bangsa Indonesia merdeka bermakna bangsa Indonesia bebas dari penjajahan, terlepas dari tuntutan yang memaksa mereka tunduk, serta tidak lagi bergantung kepada penjajah dan mampu menentukan nasib sendiri.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Dalam skala yang terkecil, manusia sebagai individu juga perlu menjadi merdeka. Dan manusia yang merdeka adalah manusia yang bebas dari penjajahan yang berupa kebodohan, kemiskinan, perbudakan hawa nafsu, dan semacamnya.

Sebagaimana suatu bangsa yang harus berjuang secara berdarah-darah untuk meraih kemerdekaan, seorang manusia juga pasti memerlukan perjuangan yang sama untuk menjadi manusia merdeka.

Misalnya, untuk merdeka dari kebodohan, seseorang tidak bisa belajar hanya ala kadarnya, tidak bisa belajar hanya ketika disuruh, hanya ketika ada tugas. Seseorang yang ingin merdeka dari kebodohan harus belajar secara berdarah-darah, belajar secara tekun, dan yang paling penting adalah konsisten atau istiqomah.

Begitu pula dengan seseorang yang ingin merdeka dari kemiskinan sehingga dapat mencukupi kebutuhannya, ia perlu bekerja secara berdarah-darah. Ia perlu memutar otak agar bisnis tetap jalan, bangun pagi buta agar tidak telat masuk kerja, panas-panasan maupun hujan-hujanan untuk menuju tempat kerja, atau berdesak-desakan di angkutan umum demi menghemat pengeluaran.

Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa perjuangan. Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa cucuran keringat. Setiap kemerdekaan membutuhkan perjuangan atau usaha yang sungguh-sungguh. Meski demikian, semua itu akan terbayar ketika kita berhasil lepas dari kebodohan, lepas dari kemiskinan, dan lepas dari segala bentuk penjajahan lainnya.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Akan tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa di samping berjuang dan berusaha secara berdarah-darah, sebagai seorang hamba, kita juga perlu berdoa, memohon pertolongan kepada Dzat yang Maha Berdiri Sendiri, Dzat yang menjadi sandaran seluruh makhluk-Nya, yaitu Allah Swt.

Di satu sisi, kita berjuang secara berdarah-darah untuk memerdekakan diri dari ketergantungan pada pihak lain, kepada sesama makhluk. Dan di sisi lain, kita sebagai hamba menggantungkan diri kepada Allah Swt.

Dengan kata lain, kita membebaskan diri dari ketergantungan atau penghambaan kepada makhluk, dan menuju ketergantungan atau penghambaan total kepada Allah Swt. Tath-hir an-nafsi min ‘ibadatil khalqi ila ‘ibadatil khaliq. Dan konsep kemerdekaan seperti ini selaras dengan konsep tauhid dalam Islam.

Sehebat apapun manusia, ia tetaplah hamba Sang Pencipta, tetap butuh Pertolongan dan Kasih Sayang-Nya. Sebagaimana Firman Allah dalam Qs. Fathir ayat 15, Ya ayyuha an-nas antum al-fuqara`u ila Allahwa Allahu huwa al-Ghaniyyu al-Hamid. Wahai manusia, kalian semua memerlukan Allah. Hanya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تلاوته إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

ِ عِبَادَ اللّٰهِ،إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Khutbah Jumat

Khutbah Jum’at: Setiap Kita Adalah Penghasil Sampah, dan Kelak Akan Diminta Pertanggungjawaban

Berikut ini adalah contoh Khutbah Jumat bertema lingkungan. Khutbah kali ini berjudul Setiap Kita Adalah Penghasil Sampah, dan Kelak Akan Diminta Pertanggungjawaban.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ تَفَرَّدَ بِالرُّبُوْبِيَّةِ وَالْأُلُوْهِيَّةِ كَمَالًا, وَاخْتَصَّ بِالْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى جَلَالًا وَجَمَالًا, أَحْمَدُهُ تَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى شَوَابِغَ نِعَمِهِ إِفْضَالًا, وَجَزِيْلَ عَطَآئِهِ نَوَالًا. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلهَ إِلاَّ اللّه وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِأَوْسَطِ شَرِيْعَةٍ وَأَكْمَلِهَا خِلَالًا. اللّهمَ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ, صَلَاةً وَسَلَامًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْد فَيَا عِبَادَ اللّهِ, أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّهِ. قَالَ اللّه تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini, 21 Februari, diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Peringatan HPSN bertujuan untuk mengajak masyarakat Indonesia agar mereka lebih peduli terhadap persoalan sampah. Namun, ada kisah pilu di balik peringatan HPSN ini.

Kisah ini terjadi pada 21 Februari 2005 atau 20 tahun silam, yang kemudian dikenal sebagai tragedi Leuwigajah. Leuwigajah adalah nama sebuah kelurahan yang terletak di wilayah Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Di kelurahan itu, terdapat sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menampung sampah-sampah kiriman dari Cimahi dan sekitarnya, termasuk Kota Bandung yang menjadi penyumbang sampah terbanyak setiap harinya.

Pada malam sebelumnya, hujan dengan intensitas yang cukup tinggi mengguyur wilayah Leuwigajah, termasuk gunung sampah yang menumpuk di area TPA. Guyuran hujan yang berlangsung sepanjang malam membuat gunung sampah sepanjang 200 meter dengan tinggi 60 meter itu longsor. Akibatnya, longsoran tersebut menerjang dua kampung di sekitar TPA, yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. 157 jiwa melayang akibat tertimbun sampah.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk bermuhasabah, sejauh mana kepedulian kita terhadap persoalan sampah?

Untuk diketahui, selain krisis iklim, persoalan lingkungan lain yang dihadapi oleh seluruh dunia saat ini adalah persoalan sampah. Khusus di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Menunjukkan, jumlah sampah di seluruh wilayah tanah air menyentuh angka 27,7 juta ton sampah pada 2024.

Peliknya persoalan sampah ini dapat dilihat, misalnya, dari unggahan kelompok anak muda yang dikenal sebagai Pandawara Group. Melalui akun media sosial, hampir setiap pekan, atau bahkan setiap hari, mereka selalu menghadapi timbunan sampah di sungai-sungai hingga pantai-pantai di Indonesia. Bahkan, terkadang lokasi-lokasi yang pernah mereka bersihkan, kembali penuh dengan sampah saat mereka mengunjungi sungai tersebut untuk kali kedua.

Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk menanggulangi persoalan sampah ini. Dari sisi kebijakan, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden RI Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Melalui Perpres tersebut, Pemerintah menetapkan target 100% sampah terkelola dengan baik pada 2025, atau disebut juga “2025 Indonesia Bersih Sampah”.

Upaya lain yang Pemerintah lakukan adalah dengan mengembangkan teknologi dan inovasi pengelolaan sampah. Misalnya, Pemerintah sedang menggarap pabrik pengolahan yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara di Rorotan, Jakarta Utara.

Pabrik pengolahan ini diklaim sebagai pabrik dengan kapasitas pengolahan terbesar di dunia, yakni sebanyak 2.500 ton per hari, melebihi kapasitas pabrik pengolahan sampah terbesar di dunia yang terdapat di Israel. Pabrik tersebut memiliki kapasitas pengolahan sampah sebanyak 1.500 ton per hari.

Ma’asyiral al-Hadlirin Rahimakumullah,

Tentu saja, Pemerintah bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas persoalan sampah yang pelik ini. Semua elemen harus terlibat aktif agar persoalan ini bisa diatasi. Masalah sampah harus ditangani sejak dari hulu hingga hilir. Disadari atau tidak, setiap orang adalah penghasil sampah meski jumlah sampah yang mereka hasilkan itu berbeda-beda. Data SIPSN menunjukkan, sepanjang 2024, rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar dengan presentase 54,44 persen.

Pesantren sebagai tempat belajar sekaligus tempat tinggal ratusan hingga ribuan santri juga berpotensi menghasilkan banyak sampah. Sebagai contoh, Pesantren Tebuireng Jombang yang memiliki sekitar 5.000 santri bisa menghasilkan sekitar 4 ton sampah per hari. Pada skala yang lebih kecil, Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok yang memiliki sekitar 200 lebih santri bisa menghasilkan 30 Kg lebih sampah per hari.

Persoalan sampah erat kaitannya dengan kebersihan, dan ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan. Bahkan, kebersihan merupakan bagian dari penghambaan kita kepada Allah Swt. Sebut saja sholat, yang mensyaratkan air yang bersih dan suci untuk berwudlu, juga tempat dan pakaian yang bersih untuk menunaikan sholat.

Bahkan, di dalam urusan manusia yang paling intim, yakni “hubungan” suami-istri, ajaran Islam masih memerhatikan aspek kebersihan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah: 222 yang berbunyi,

وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلمَحِيْضِ, قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِيْ اْلمَحِيْضِ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ, فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ, إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Haid. Katakanlah: “Itu adalah penyakit, maka jauhilah istri (kalian) pada saat mereka haid, dan jangan kalian mendekati mereka hingga mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka datangilah mereka sebagaimana (ketentuan) yang Allah perintahkan kepada kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri.”

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar memaknai kata adza sebagai “gangguan”. Sementara itu, dalam Tafsir Kementerian Agama RI cetakan 2011, kata tersebut dimaknai sebagai “sesuatu yang kotor”. Ayat ini ditujukan kepada semua laki-laki muslim, untuk menjelaskan agar mereka tidak mendekati istri mereka, dalam arti tidak “berhubungan”, selama istri sedang haid hingga ia suci dari haid. Hatta yath-hurna.

Tidak cukup hanya ketika istri sudah suci dari haid, laki-laki muslim baru dibolehkan untuk “mendatangi” istrinya ketika sang istri sudah membersihkan diri atau menyucikan diri, yakni dengan mandi, fa idza tathahharna. Artinya, tidak cukup hanya sampai yath-hurna, yang itu merupakan siklus dalam sistem reproduksi dan terjadi secara otomatis, tapi juga harus dengan yatathahharna, ada aksi, ada tindakan aktif dari istri untuk membersihkan diri.

Dan Allah menegaskan pada akhir ayat, bahwa diri-Nya Mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri, bersungguh-sungguh membersihkan diri.

Jika pada urusan yang paling intim saja Islam begitu memerhatikan aspek kebersihan, maka pada urusan yang umum dan menyangkut kepentingan orang banyak, Islam tentu memberikan perhatian yang lebih besar lagi.

Di samping itu, Islam mengajarkan bahwa segala tindakan kita adalah tanggung jawab kita, dan kelak kita akan menerima konsekuensinya. Allah Berfirman, Li kullin imri`in bima kasaba rahinun, setiap pribadi bertanggung jawab atas segala hal yang ia perbuat. Setiap muslim bertanggung jawab atas sampah yang ia hasilkan.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim, dan lebih khusus sebagai santri, untuk bisa berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus sebagai bentuk menjalankan ajaran Islam soal kebersihan dan tanggung jawab? Setidaknya ada empat langkah kecil yang bisa kita lakukan.

Pertama, mengurangi penggunaan produk sekali pakai. Maraknya penggunaan produk sekali pakai seperti kantong plastik, gelas plastik, kaleng, dan semacamnya, membuat penumpukan sampah tidak bisa dihindari. Padahal, sampah yang menumpuk tidak hanya menganggu pandangan, melainkan juga dapat menjadi sarang tumbuhnya beragam penyakit.

Oleh karena itu, kita harus mulai membiasakan diri menggunakan produk yang bisa dicuci dan digunakan berkali-kali.

Kedua, menghabiskan makanan. Data SIPSN menunjukkan, sepanjang 2024, sampah yang paling banyak adalah sampah berjenis sisa makanan, dengan presentase 39,22 persen atau setara dengan 10,9 juta ton. Ini merupakan fakta yang miris, mengingat Indonesia yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia justru menghasilkan sampah sisa makanan sebanyak itu. Padahal, Allah Swt Berfirman dalam Qs. Al-Isra ayat 27,

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنُ, وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan adalah saudara setan, dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya.

Ketiga, membuang sampah pada tempatnya. Nabi Muhammad Saw pernah mengingatkan umatnya sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadis riwayat Muadz bin Jabal berikut ini,

اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلاَثِ: الْبَرَّازُ فِيْ الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيْقِ وَالظِّلِّ

Artinya: Takutlah terhadap tiga perkara yang menimbulkan laknat: buang air di saluran air, di tengah jalan, dan di tempat teduh.

Secara spesifik, hadis tersebut merupakan larangan untuk buang hajat di sembarang tempat. Namun, melalui qiyas, hadis tersebut dapat dimaknai sebagai larangan untuk membuang semua jenis limbah secara sembarangan, termasuk sampah,

Keempat, memilah sampah. Dewasa ini, membuang sampah sembarangan mengalami perluasaan makna. Membuang sampah di tempat sampah masih bisa dikategorikan sebagai ‘membuang sampah sembarangan’ ketika kita tidak membuang sampah sesuai jenis sampahnya. Misalnya, sampah anorganik seperti sampah plastik atau kaleng dibuang ke tempat sampah untuk jenis organik.

Hal ini lantaran pemilahan sampah merupakan satu hal yang penting dalam upaya mengurangi timbunan sampah. Pemilahan sampah itu sendiri bermanfaat untuk memudahkan pengolalaan sampah. Sampah anorganik bisa langsung didaur ulang, dan sampah organik bisa langsung diolah menjadi pupuk tanaman atau pakan ternak. Sehingga tidak ada sampah yang terbuang sia-sia.

Jamaah sidang Jumat yang berbahagia,

Mari kita bersama-sama berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah, mari kita mulai dari langkah kecil, Insya Allah langkah kecil itu akan membawa dampak positif yang besar, bagi lingkungan sekitar, bagi negara, atau bahkan bagi alam semesta dan seisinya. Sampah kita, tanggung jawab kita.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

بارَكَ اللّه لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ, إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ, وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّحِمِيْنَ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رُسُلِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى, وَعَلىَ خَاتِمِهِمْ مُحَمَّدٍ الْمُجْتَبَى, وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَئِمَّةِ الْهُدَى, وَمَنْ بِهِمْ اقْتَدَى فَاهْتَدَى. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلَّا اللّه وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْد

فَيَا عباد الله, أُصِيْكُمْ وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللّه تَعَالى  فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ, بِسْمِ اللّهِ الرّحْمنِ الرّحِيْمِ, ٰيآيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا, يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَعُوْذُ بِاللّه مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ. بِسْمِ اللّه الرّحمن الرّحِيْمِ. إِنَّ اللّه وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ آمَنُوْا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا. اللّـهُمَّ صَلّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا صَلّيْتَ عَلَى سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيّدِنا إبراهيم وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سيّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيم. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ العِزّةِ عَمّا يَصِفُوْنَ, وَسَلَامٌ عَلىَ المُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للّه رَبّ العَالَمِيْن

عِبَادَ اللّه، إِنّ اللّه يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبىَ وَيَنْهَي عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ, يَعِظُكُمْ لَعَلّكُمْ تَذَكّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللّهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللّهِ أَكْبَرْ. أَقِمِ الصَّلَاة

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Kesalehan Spiritual dalam Merawat Alam dan Lingkungan

Khutbah Pertama:

الحمد لله الذي أعزّ من أطاعه واتقاه، وأذل من خالف أمره وعصاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، فلا إله سواه، وأشهد أن نبينا وسيدنا محمداً عبده ورسوله، اصطفاه ربه واجتباه. اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ورسولك محمد، وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد: فاتقوا الله أيها المسلمون -وأطيعوه، وراقبوه في أعمالكم مراقبة من يعلم أنه يعلم السر وأخفى. واتبع فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Pada dekade akhir-akhir ini, dunia disibukkan dengan isu perubahan iklim dan krisis lingkungan. 196 negara anggota PBB dalam Perjanjian Paris sepakat untuk melakukan upaya memperlambat laju pemanasan global di bawah 1,5 – 2 derajat celcius. Namun, hal itu tak mampu diwujudkan.

Di antara dampak pemanasan global terhadap lingkungan kita adalah cuaca yang susah diprediksi, meningkatnya suhu dan gelombang panas yang membawa bencana alam, hilangnya berbagai spesies tumbuhan dan hewan, terjadi kekeringan dan gagal panen. Di wilayah lain terjadi banjir karena meningkatnya air permukaan laut di daerah-daerah pesisir dan lain-lain.

Fenomena ini tentu berdampak pada kondisi sosial masyarakat kita mulai dari perekonomian hingga pada kesehatan. Ini berarti bahwa kerusakan alam dapat mengantar pada rusaknya tatanan sosial masyarakat kita, bahkan mengancam kehidupan dan eksistensi makhluk hidup di muka bumi.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Lingkungan yang terdiri dari benda hidup (biotik) seperti manusia, tumbuhan, hewan. Dan benda tak hidup (abiotik) seperti air, udara (angin), tanah dan lain-lain. Di antara makhluk yang paling berketergantungan dengan lingkungan adalah manusia. Oleh karena itu, manusia diberikan amanah sebagai khalifah dengan fasilitas akal pikiran untuk mengelola, memelihara dan menjaga lingkungan.

Seluruh unsur lingkungan saling berhubungan untuk membentuk suatu kesatuan sistem kehidupan yang disebut ekosistem. Di dalamnya ada produsen (tanaman), ada konsumen (manusia dan hewan), ada pengurai bahan organik (mikroba) dan ada komponen tak hidup (air, udara, mineral).

Terganggunya salah satu unsur lingkungan akan berpengaruh terhadap sistem kehidupan alam semesta yang sudah diciptakan teratur dan seimbang. Dalam Qur’an Surat Al-Mulk ayat 3 – 4, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

‎الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَـٰنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ (3) ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًۭا وَهُوَ حَسِيرٌ (4)

Artinya: “(Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? (3) Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah (4)”.

Untuk menjaga Mizan tersebut kita diperintahkan berihsan. Berihsan dengan standar minimal adalah tidak merusak ekosistem alam. Berihsan secara maksimal yakni melakukan hal-hal yang sifatnya transformatif untuk kemaslahatan lingkungan sesuai prinsip-prinsip keseimbangan hukum alam atau sunnatullah.

Tidak membuang sampah di sembarang tempat adalah hal yang minimal dalam berihsan, tapi mengelola sampah menjadi hal yang produktif adalah berihsan secara maksimal. Tidak merusak tanaman adalah hal yang minimal, tapi menanam pohon dan merawat bukti ihsan maksimal. Kalau tidak bisa membersihkan jangan mengotori, kalau tidak bisa menanam dan merawat jangan menebang dan merusak. Demikian seterusnya.

Alam ini adalah jembatan untuk keselamatan akhirat sebagaimana terdapat pada Qur’an Surat Al-Qashash ayat 77:

‎وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Karena itu, kita dituntut mengelola alam dengan sebaik-baiknya. Bumi dan segala isinya disiapkan untuk manusia sebagai pengelolanya, sebagaimana dalam Qur’an Surat Hud ayat 61:

‎هو أنشاكم من الأرض واستعمركم فيها

Artinya:”Dia telah hidupkan kamu dari bumi (tanah) dan mempersilahkan kamu untuk memakmurkannya.”

Dalam memakmurkan dan memanfaatkan alam ini, kita memerlukan sifat zuhud dalam menjaga bumi. Sikap berlebih-lebihan dalam mengeksploitasi alam adalah perilaku israf dan tabdzir yang disukai oleh setan. Jangankan dalam bermuamalah, dalam beribadah pun sifat itu dilarang oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Anas radhiallahu anhu dan dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يغتسل من الجنابة بالصاع إلى خمسة أمداد، ويتوضأ بالمد

Artinya:”Rasulullah ketika mandi (dengan takaran air sebanyak) satu sha’ sampai lima mud berwudhu’ dengan (takaran air sebanyak) satu mud.”

Dalam riwayat ini tergambar bahwa Nabi tidak boros dalam menggunakan air, ketika Nabi berwudhu diperkirakan beliau hanya menggunakan 1 liter air. Dan ketika mandi hanya menggunakan sekitar 5 liter air.

Jamaah Jumat Masjid Al-Nahdlah rahimakumullah.

Kita sejatinya sangat memerlukan kesalehan spiritual dalam mengelola alam untuk kemaslahatan manusia sebagai tujuan hadirnya Syariah agar tidak menimbulkan kerusakan. Karena itu, dalam mengelola alam diperlukan Ekologi Spiritual, yakni berinteraksi dengan lingkungan, dengan “menghadirkan” Tuhan dalam setiap aspek kegiatan. Merasakan bimbingan Tuhan dalam mengelola alam sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.

Kaidah yang sangat populer La dharara wala dhirarar (tidak boleh membahayakan diri maupun orang lain) menjadi acuan hukum atas keharaman merusak lingkungan, dan memerintahkan sebaliknya yaitu kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

‎الحمد لله على احسانه، والشكر له على عظم نعمه وامتنانه، واشهد ان لا اله الا الله، وحده لا شريك له، تعظيمًا لشأنه، واشهد ان محمدًا عبده ورسوله، وخليله، صلى الله عليه وعلى اله وصحبه، ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، وسلم تسليمًا كثيرًا. اما بعد: فاتقوا الله عباد الله – حق التقوى، واستمسكوا من الاسلام بالعروة الوثقى، عباد الله، لا يستطيع كائنًا من كان من انس او جان ان يجلب رحمةً او يمنعها عن خلق الله، قال تعالى: ما يفتح الله للناس من رحمةٍ فلا ممسك لها وما يمسك فلا مرسل له من بعده وهو العزيز الحكيم (فاطر: 2)

فيا أيها الناس اتقوا الله حق تقاته، واعلموا أن الله أمر بأمر بدأ فيه بنفسه وثنى بملائكته بقدسه، وقال تعالى إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن بقية الصحابة والتابعين وتابع التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين، وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين وانصر عبادك الموحدين المخلصين، وأخذل من خذل المسلمين ودمر أعدائنا وأعداء الدين وأعل كلمتك إلى يوم الدين. اللهم ادفع عنا البلاء والوباء والزلازل والمحن وسوء الفتن ما ظهر منها وما بطن عن بلدنا أندونيسيا خاصة وعن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، واسألوه من فضله يعطكم، ولذكر الله أكبر

Editor: M. Naufal Hisyam

Get 30% off your first purchase

X