Nabi Muhammad Saw memiliki berbagai kemuliaan sebagai anugerah dari Allah Swt. Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) menuliskan dalam Nasho`iul ‘Ibad, yang selanjutnya dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani dalam syarahnya, lima kemuliaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad.
Hal ini dijelaskan oleh Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA. Dalam “Kajian Mingguan” kitab Nashoihul ‘Ibad, pada Sabtu (10/8) pagi.
“Allah Swt memberikan kemuliaan kepada Nabi Muhammad dengan namanya (al-ism), fisiknya (al-jism), pemberiannya (al-‘atha`), terkait dengan kesalahan (al-khatha`), dan adanya Ridho (ar-ridlo),” terang Kiai Ni’am.
5 Kemuliaan Nabi Muhammad Saw
Pertama, pemuliaan Allah terhadap nama Nabi Muhammad Saw. Bentuk dari pemuliaan ini, misalnya, adalah Allah Swt. memanggil Nabi tidak dengan namanya, melainkan tugas atau gelarnya.
“Jadi, penghormatan Allah kepada baginda Rasul itu menyebutnya bukan dengan nama, tetapi dengan jabatannya, dengan status dan kedudukan sebagai Rasul,” papar Kiai Ni’am.
Sebagai contoh, di dalam Al-Qur`an, Allah menyebut nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan lainnya, langsung dengan nama masing-masing.
Berbeda halnya ketika Allah memanggil Nabi Muhammad. Panggilan yang digunakan adalah “ar-rasul” atau “an-nabiyy”, bukan nama langsung.
Kedua, pemuliaan Allah terhadap fisik Nabi. Kiai Ni’am menjelaskan, ketika Rasulullah Saw. berdoa meminta sesuatu, Allah mengabulkan permintaan tersebut melalui perantara diri Nabi sendiri.
“Contoh kasusnya (ketika) mengembalikan mata salah satu sahabat, yaitu Qatadah, setelah jatuh,” bebernya.
Ketiga, pemuliaan Allah terkait pemberian. Jika manusia biasa mendapat pemberian dari Allah setelah melangitkan permohonan atau permintaan kepada Allah, maka lain halnya dengan Nabi Muhammad.
“Sesungguhnya Allah Swt. memberi kepada Nabi Muhammad tanpa harus didahului dengan permintaan,” tutur Kiai Ni’am.
Di antara ayat Al-Qur`an yang menyebutkan perihal pemberian Allah kepada Nabi Muhammad adalah Qs. Al-Kautsar [108] ayat 1 dan Qs. Ad-Dluha [93] ayat 5.
Keempat, pemuliaan Allah kepada Nabi terkait dengan kesalahan. Allah Swt. memuliakan Nabi Muhammad dengan cara memberi maaf sebelum baginda Rasul melakukan ‘kesalahan’.
“Allah telah memberi maaf sebelum dosanya (Nabi), sebelum kesalahan dilakukan,” ujarnya.
‘Kesalahan’ yang dilakukan oleh Nabi sendiri berbeda dengan kesalahan yang dilakukan oleh manusia biasa. ‘Kesalahan’ yang dilakukan oleh Nabi hanya sebatas meninggalkan yang utama atau prioritas, yang tentunya hal itu bukanlah benar-benar kesalahan karena Nabi sendiri memiliki sifat ma’shum atau terlindung dari kesalahan.
Terkait dengan sifat ma’shum, Kiai Ni’am menekankan bahwa sifat tersebut hanya dimiliki oleh Nabi dan Rasul. Selain mereka, tidak ada manusia yang ma’shum, termasuk kiai atau ulama, bahkan sahabat.
Yang terakhir atau kelima adalah pemuliaan Allah kepada Nabi Muhammad terkait dengan Ridho. Yang dimaksud adalah Allah Swt. meridhoi fidyah, sedekah, atau infaq Nabi yang diperuntukkan bagi umatnya.
“Allah tidak menolak fidyahnya, shodaqohnya, infaqnya, sebagaimana Allah mengembalikan kepada Nabi-nabi lain,” jelas Kiai Ni’am.
Adapun contoh yang disebutkan oleh Syekh Nawawi dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, sebagaimana juga dijelaskan oleh Kiai Ni’am, adalah bahwa Nabi Muhammad pernah menyembelih kurban dan membayar kafarat untuk umatnya.
Itulah lima kemuliaan yang Allah Swt Berikan secara khusus kepada Nabi Muhammad Saw. Kelima kemuliaan itulah yang membuat Nabi istimewa dibandingkan dengan manusia lainnya, termasuk para Nabi pendahulunya.
0 Comments