Nashoihul Ibad KH M Asrorun Niam Sholeh

Jangan Meremehkan Ketaatan Kecil, Bisa Jadi Ada Ridla Allah di Dalamnya

Al-Nahdlah IBS – Setiap orang yang beriman tentu berharap dirinya memperoleh Ridla Allah SWT. Dan cara untuk meraih Ridla-Nya adalah dengan menjalankan ketaatan kepada Allah, yakni dengan mengikuti Perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya.

“Jadi, ketika kita berharap memperoleh Ridla Allah SWT, dan Allah menempatkan Ridla-Nya itu di setiap jenis ketaatan, yaitu dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” terang Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad pada Sabtu (11/1/2025) lalu.

Sebelumnya, Kiai Niam menyebutkan sebuah riwayat dari Umar bin Khattab RA yang dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nashoihul Ibad.

Umar menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan enam hal di dalam enam hal yang lain, salah satunya adalah Allah menyembunyikan Ridla-Nya di dalam ketaatan seorang hamba kepada-Nya.

Ketaatan kepada Allah yang dimaksud oleh Umar tidak terbatas pada ketaatan tertentu, melainkan semua jenis ketaatan tanpa ada pengecualian.

“Jadi, fi tho’atin di sini menggunakan isim nakirah, yang bermakna segala jenis ketaatan,” ujar Kiai Ni’am.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok ini, penggunaan isim nakirah itu bertujuan agar manusia bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua jenis ketaatan dan tidak meremehkan suatu ketaatan hanya karena terlihat kecil.

“Jangan menghina, jangan meremehkan, jangan menggampangkan, apalagi menganggap itu tidak ada (nilai ketaatannya),” tutur Kiai Ni’am. “Karena bisa jadi Ridla Allah berada di ketaatan yang kecil itu.”

Kiai Niam juga mengingatkan agar jangan pernah merasa bangga dengan ketaatan yang nampak besar, karena Allah belum tentu Meridloi ketaatan itu.

“Bisa jadi, ketaatan besar yang kita lakukan itu justru Allah tidak Meridlai, karena mungkin ada unsur sum’ah, riya’,” paparnya.

Oleh karena itu, Kiai Ni’am mengimbau untuk mulai membiasakan diri melakukan ketaatan meski hanya sebatas menjalankan ajaran berdoa sebelum makan, makan dan minum dengan duduk, dan sejenisnya.

Amal Kebaikan Ikhlas

Ikhlas Itu Harus Dilatih, Mulai Saja Berbuat Baik, Meski Awalnya Terpaksa

Pernahkah anda mengurungkan niat untuk berbuat baik hanya karena khawatir anda tidak bisa melakukannya dengan ikhlas? Jika jawabannya ‘iya’, maka anda sebaiknya segera mengubah pola pikir anda tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok, Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA menjelaskan, ikhlas itu adalah suasana hati yang harus dilatih. Untuk menuju ikhlas, seseorang harus memulai beramal baik meski awalnya didasari atas keterpaksaan.

“Ikhlas itu adalah suasana hati yang harus dilatih. Bagaimana mungkin bisa ikhlas kalau kita tidak memulai untuk memaksakan diri menuju ikhlas?” ujarnya dalam Kajian Mingguan Kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (16/11) pagi.

Kiai Ni’am mencontohkan, para santri yang belajar di pesantren. Awalnya, mereka melakukan kebaikan karena terpaksa mematuhi aturan yang berlaku. Seperti kewajiban mengaji setelah subuh berjamaah.

“Lama-lama menjadi kebiasaan, lama-lama menjadi panggilan keikhlasan di dalam menjalankan kewajiban tholabul ilmi,” terangnya.

Biasanya, seseorang mengurungkan niat untuk berbuat kebaikan karena khawatir tidak ikhlas. Menurut Kiai Ni’am, kekhawatiran itu adalah salah satu bentuk godaan setan.

“Kadang ada godaan setan ketika kita mau bersedekah. ‘Haduh ini saya belum bisa ikhlas.’ Akhirnya tidak mau bersedekah,” tuturnya.

Beramal Karena Motivasi Tertentu

Terkadang, seseorang melakukan suatu amal kebaikan karena memiliki motivasi tertentu. Apakah hal tersebut termasuk perbuatan tidak ikhlas dalam beramal? Dan apakah hal semacam itu diperbolehkan?

Menurut Kiai Ni’am, melakukan amal kebaikan karena didorong oleh motivasi tertentu itu boleh saja. Dan jenis motivasi tersebut beragam. Pertama, beribadah karena Allah yang dilandasi motivasi duniawi.

“Seperti Sholat Dluha. Sholat Dluhanya lillah, tetapi kita melaksanakannya untuk memperoleh rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah,” bebernya.

Contoh lainnya, ada orang bersedekah karena Allah, namun memiliki motivasi untuk mewujudkan hajat tertentu. Dengan kata lain, orang ini menjadikan suatu amal kebaikan sebagai wasilah atau perantara baginya untuk meraih keinginan duniawinya.

Kedua, beribadah karena Allah yang dilandasi motivasi menghindari siksa di akhirat. Seseorang mengerjakan kebaikan, baik wajib maupun sunnah, karena takut masuk neraka kalau tidak mengerjakannya.

“Kita sholat rajin, biar nanti kita tidak masuk neraka. Ini berarti motivasinya personal, biar nggak masuk neraka. Boleh nggak itu? Boleh,” jelas Kiai Ni’am.

Hanya saja, Ketua MUI Bidang Fatwa ini menggarisbawahi, seseorang hendaknya tidak berhenti pada level beribadah karena motivasi tertentu. Ia harus bisa naik ke level tertinggi, yaitu beramal karena dilandasi rasa cinta kepada Allah.

“Puncak ketaatan kita, motivasi ibadah yang kita lakukan, itu lillah dan billah. Karena Allah dan untuk Allah, karena mahabbah, cinta kita kepada Allah,” tegasnya.

Kiai Ni’am melanjutkan, ketika seseorang mampu mencapai level tersebut, manfaat-manfaat duniawi akan berdatangan dengan sendirinya.

“Biasanya kalau udah tingkatan mahabbah billah, yang urusan dunia akan mengikuti. Ada saja sumber rezeki,” katanya. “Sangat mungkin terjadi, dan tidak terlalu sulit untuk memahami itu.”

Elsas Production Gelar Pelatihan Creator Digital, Bekal Para Santri untuk Jadi Insan yang Adaptif

Depok, Al-Nahdlah IBS – Elsas Production bersama Kaukus Santri Muda Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Content Creator Digital Pemuda dan Santri pada Senin (11/11) di Aula Pondok Pesantren Al-Nahdlah, Depok.

Pelatihan yang bertajuk “Kolaborasi dan Optimalisasi Media untuk Dakwah di Era Digital” ini diikuti oleh 50 santri terpilih dari MTs dan MA Al-Nahdlah. Para wali kelas dan pembina juga turut meramaikan pelatihan ini.

Acara pelatihan dibuka langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah, Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA.

Kiai Niam dalam sambutannya mengatakan, ada generasi yang lahir dan tumbuh di era perkembangan teknologi. Namun, ada juga generasi yang lahir sebelum era perkembangan teknologi, tetapi di saat yang sama tumbuh besar di era tersebut.

Menurutnya, generasi yang disebut kedua itu yang butuh belajar seputar teknologi digital. Sehingga mereka bisa adaptif terhadap perubahan zaman.

“Perubahan adalah sunnatullah. Kondisi hari ini harus dimanfaatkan secara optimal,” tutur Kiai Niam.

Sementara itu, Muhammad Shidqil Muqoffa, Ketua Kaukus Santri Muda Indonesia menjelaskan, transformasi di era digital ini berjalan cepat.

Oleh karena itu, pelatihan seperti ini penting untuk membekali mereka dalam menghadapi transformasi tersebut.

“Sehingga, ketika lulus dari tembok suci, dari pesantren, santri bisa adaptif,” ungkapnya.

Selama pelatihan, para santri dan dewan guru dibekali dengan materi maupun tips untuk membuat konten digital, baik konten media sosial maupun konten berbasis website.

Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk mempraktekkan materi-materi yang sudah didapat dengan didampingi langsung oleh para narasumber.

Pelatihan Content Creator Digital Pemuda dam Santri ini didukung oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.

Get 30% off your first purchase

X