Depok, Al-Nahdlah IBS – Direktur Pendidikan Pesantren Al-Nahdlah Ustadz Rosyidin Effendi, SQ, MA, mengatakan bahwa santri Al-Nahdlah tidak hanya harus pandai membaca, tapi juga harus pandai menulis.
“Santri Al-Nahdlah harus pandai dua hal, yaitu di samping pandai membaca juga pandai menulis,” ujarnya dalam Penutupan Sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) Kelas 12 MA Al-Nahdlah pada Kamis (20/2/2025) kemarin.
Sebelumnya, Ustadz Rosyidin menjelaskan, meskipun Nabi Muhammad Saw itu disifati ummi, yakni tidak bisa membaca dan menulis, hal itu merupakan skenario Allah agar kaum kafir tidak menduga bahwa Al-Qur`an adalah karangan Nabi.
“Tetapi tidak ada alasan bagi kita umat Nabi Muhammad untuk tidak bisa membaca dan menulis,” terangnya.
Menurutnya, bukti bahwa Islam memandang penting kepandaian dalam membaca dan menulis adalah wahyu pertama dan wahyu kedua yang diturunkan kepada Nabi.
“Begitu pentingnya membaca dan menulis hingga Allah menurunkan ayat pertama itu iqra` (Qs. Al-Alaq) dan ayat kedua itu nun wa al-qalami wa ma yasthurun (Qs. Al-Qalam),” jelasnya.
Ustadz Rosyidin mencontohkan, para ulama terdahulu sangat produktif dalam menulis dan melahirkan karya.
“Ulama-ulama kita telah banyak yang menunjukkan kehebatan mereka dalam berkarya, seperti Imam An-Nawawi, yang meskipun usianya hanya 45 tahun, tapi karyanya sangat panjang,” ulasnya.
Ustadz Rosyidin berharap, tradisi menulis di Al-Nahdlah bisa terus dikembangkan dan digalakkan. Apalagi, di era perkembangan teknologi yang begitu pesat seperti saat ini, menulis tidak lagi hanya terbatas dengan pena, tapi juga bisa dengan gadget, komputer, dan sejenisnya.
“Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membekali diri dengan ilmu. Kalau ilmunya cukup, ilmunya mumpuni, maka tulisan kita akan membawa manfaat bagi banyak orang,” tegasnya.
0 Comments