Setiap orang tentu mendambakan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka berupaya meraihnya dengan cara masing-masing. Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) menuliskan dalam Nasha`iul ‘Ibad pada maqolah ke-9, yang selanjutnya diuraikan oleh Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani dalam kitab syarahnya, bahwa ada riwayat dari Abdullah bin Amr bin Ash RA yang menyebutkan lima ciri orang yang dijamin bahagia dunia dan akhirat.
“Ada lima hal, (yang) jika ada pada diri seseorang, maka ia dijamin memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Sekalipun ngajinya ngantuk-ngantuk,” terang Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan Kitab Nashoiul Ibad, Sabtu (17/8/2024) lalu.
5 Ciri Orang yang Dijamin Bahagia Dunia dan Akhirat
Ciri pertama, senantiasa berzikir Lā ilāha illallāhu Muhammad Rasūlullāh (tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah) sepanjang waktu.
“Sepanjang waktu, sepanjang hidupnya, pada saat istirahat, saat bekerja, saat belajar, saat beribadah, saat olahraga, tidak pernah lepas dari kalimat thayyibah Lā ilāha illallāhu Muhammad Rasūlullāh,” tutur Kiai Ni’am.
Ini didasarkan pada Hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya:
Perbanyaklah kalian zikir kepada Allah pada setiap kondisi, karena sesungguhnya tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai oleh Allah dan tidak lebih memberikan kesalamatan bagi seorang hamba dari setiap kesalahan di dunia dan di akhirat daripada zikir kepada Allah SWT.
Ciri kedua, apabila diuji dengan suatu ujian, ia mengucap innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn dan lā haula wa lā quwwata illā billāh al-‘aliyyi al-‘adhīm.
“Jika kita pahami secara utuh, makna yang terkandung di dalam innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn adalah kepasrahan total, kesadaran teologis kita bahwa setiap apa yang kita peroleh dan yang kita alami itu tidak lepas dari qadla Allah SWT,” jelas Kiai Ni’am.
Terkait dengan ujian, Kiai Ni’am juga menjelaskan bahwa dalam setiap tarikan nafas manusia itu selalu ada ujiannya. Dan ujian itu tidak hanya berupa kesulitan, melainkan juga dapat berupa suatu kemudahan.
“Begitu kita diberikan ujian kebaikan (kemudahan), kita bersyukur. Maka itu akan melahirkan kebaikan. Sebaliknya, apabila diuji dengan kesulitan, kita sabar. Maka itu (juga) akan melahirkan kebaikan,” bebernya.
Kalimat innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn bermakna ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami kepada Allah kembali’. Sementara kalimat lā haula wa lā quwwata illā billāh al-‘aliyyi al-‘adhīm bermakna ‘tidak ada daya dan kekuatan apapun kecuali itu datangnya dari Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung’.
“Lā haula wa lā quwwata illā billāh al-‘aliyyi al-‘adhīm itu (juga) kepasrahan total, sadar kalau kita lemah,” ujar Kiai Ni’am.
Ciri ketiga, apabila mendapat nikmat dari Allah SWT, ia mengucap Alhamdulillāh rabb al-‘ālamīn sebagai wujud syukur atas nikmat tersebut.
Kalimat tersebut, yang biasa disebut kalimat hamdalah, merupakan salah satu dari empat kalimat yang paling dicintai oleh Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Tsamrah bin Jundub RA. Empat kalimat itu adalah Subhānallāh, Alhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, dan Allāhu akbar.
“Kalimat ini yang paling dicintai oleh Allah SWT untuk dilafalkan hamba-Nya,” ungkap Kiai Ni’am.
Kiai Ni’am juga mengingatkan agar setiap muslim membiasakan diri untuk berzikir dalam setiap gerak dan nafasnya. Dengan membiasakan diri, suatu saat itu akan menjadi akhlak atau habit. Dan puncaknya adalah ketika menghadapi sakaratul maut, ucapan yang keluar dari mulut adalah ucapan zikir.
Ciri keempat, apabila hendak mengerjakan suatu kebaikan, ia terlebih dahulu mengucap Bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Setiap aktivitas baik yang tidak dimulai dengan Bismillāh ar-Rahmān ar-Rahīm, maka ia terputus.
“Terputus apanya? Keberkahannya, terputus dari Allah. Kalau amalan baik kita terputus dari Allah, ya mubazir, tidak diterima,” tegas Kiai Ni’am.
Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim membiasakan diri untuk mengawali setiap aktivitas dengan membaca basmalah, mulai dari setelah bangun tidur hingga menjelang tidur kembali.
Ciri kelima atau terakhir, apabila telah berbuat dosa, lalu sadar akan dosa yang telah diperbuat, ia langsung mengucap Astaghfirullāh al-‘adhīm wa atūbu ilaika (Saya memohon ampunan Allah dan bertaubat kepada-Mu (Allah)).
“Jadi, begitu kita melakukan dosa, kemudian sadar, lalu kita beristighfar. Itu sebagai manifestasi dari an-nadam (penyesalan),” papar Kiai Ni’am.
Abdullah bin Abbas RA meriwayatkan sabda Nabi SAW yang artinya:
Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar di setiap kesempitan, dan kemudahan di setiap kesulitan, dan Allah berikan rizki yang tidak terduga-duga.
Itulah lima ciri-ciri orang yang dijamin bahagia di dunia dan di akhirat. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki ciri-ciri tersebut.


