KH M Asrorun Niam Sholeh: Hakikat Merdeka Adalah Tidak Bergantung pada Makhluk

Depok, Al-Nahdlah IBS – Bangsa Indonesia akan memperingati hari ulang tahun ke-80 kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2025 nanti. Ini menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, MA mengatakan bahwa hakikat komitmen kemerdekaan adalah tidak bergantung kepada yang lain.

“Komitmen kemerdekaan itu pada hakikatnya adalah kita tidak mau bergantung, tidak mau dijajah, diperbudak,” ujarnya dalam Kajian Mingguan Nashoihul Ibad, Sabtu (2/8/2025) pagi.

Orang yang merdeka adalah orang yang tidak bergantung kepada orang lain. Sebagaimana bangsa yang merdeka adalah bangsa yang tidak bergantung kepada bangsa lain.

Menurut Kiai Niam, kemerdekaan yang seperti itu adalah hakikat dari Tauhid, yakni memerdekakan diri atau membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk.

“Ini hakikat Tauhid, membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama (makhluk) menuju penghambaan total kepada Allah Swt,” jelasnya.

Ketua MUI Bidang Fatwa ini juga menyebutkan definisi lain dari tauhid, yakni tahrirul qalbi min ‘ibadatil khalqi ila ‘ibadatil khaliq, yang bermakna membebaskan hati dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Khalik.

“Kita tidak boleh menggantungkan diri, merasa faqir (butuh), meminta-minta kepada sesama makhluk,” tegasnya.

Kiai Niam melanjutkan, manusia sebagai makhluk tidak boleh menggantungkan diri pada makhluk lain lantaran sesama makhluk mempunyai problem yang sama.

“Kalau kita bergantung kepada sesama makhluk (saat menghadapi masalah), maka masalah tidak akan selesai,” tuturnya.

Kiai Niam mengimbuhkan, “wong yang kita jadikan tempat bergantung juga menghadapi masalah yang sama.”

KH M Asrorun Ni’am Sholeh Jelaskan Alasan Guru Harus Terus Mengembangkan Diri

Depok, Al-Nahdlah IBS – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA mengatakan bahwa seorang guru adalah sumber belajar dalam sebuah proses pembelajaran.

“Kita (guru) yang berinteraksi dengan santri, dengan peserta didik, adalah sumber belajar,” ujarnya dalam Rapat Kerja Pondok Pesantren Al-Nahdlah pada Rabu (9/7/2025) pagi.

Kiai Niam melanjutkan, di dalam proses pendidikan yang terintegrasi sebagaimana yang dipraktekkan di Al-Nahdlah, suatu waktu seorang guru menjadi sumber belajar. Namun di waktu lain guru yang belajar.

Hal ini adalah sebuah keniscayaan karena Al-Nahdlah mengadopsi konsep pendidikan Islam, yakni pembelajaran sepanjang hayat.

“Tidak boleh orang hanya berhenti pada satu titik. Misalnya, hanya sebagai pengajar, atau hanya sebagai pelajar. Saat kita mengajar pun seharusnya kita juga belajar,” jelasnya.

Menurut Ketua MUI Bidang Fatwa ini, pemahaman atas konsep pembelajaran sepanjang hayat meniscayakan adanya komitmen seorang guru untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Continous improvement, atau komitmen untuk mengembangkan diri secara terus-menerus,” ulasnya.

Di samping pengembangan pada aspek substantif, yang tidak kalah penting adalah pengembangan pada aspek administratif serta aspek metodologis.

“Aspek administratif dan metodologis itu juga dinamis, kita harus selalu update. Jangan sampai ketika membuat konsideran SK, undang-undangnya sudah dicabut, sudah tidak berlaku,” singgung Kiai Niam.

Ia melanjutkan, “Smart TV di tangan smart teacher itu manfaatnya menjadi berlipat ganda, (misalnya) untuk mengakselerasi proses pembelajaran.”

Dalam pandangan Kiai Niam, teknologi canggih yang disediakan untuk proses pembelajaran tidak akan berguna ketika guru tidak memiliki kemampuan untuk mengoperasikannya.

“Teknologi itu memudahkan proses pembelajaran serta memperbanyak sumber belajar. Untuk mewujudkan itu, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengupgrade diri,” terangnya.

Bagi seorang guru, pengembangan diri menjadi penting agar tidak ada pandangan negatif yang muncul dari para santri atau peserta didik serta demi menjaga kredibilitas guru di depan mereka.

“Mereka akan bilang, ‘oh, guru tidak update, nih.’. Atau ketika guru menyampaikan informasi, dan setelah peserta didik mencari, mereka menemukan bahwa informasi yang kita sampaikan adalah informasi yang keliru, akhirnya muncul ketidakpercayaan peserta didik kepada kita,” bebernya.

Sebagai informasi, Rapat Kerja Pondok Pesantren Al-Nahdlah tahun ini mengangkat tema “Mewujudkan Madrasah Masa Depan, Maju dalam Teknologi, Bermutu dalam Layanan, Mendunia dalam Prestasi”.

KH M Asrorun Niam Sholeh: Pengasuhan Terbaik Bagi Anak adalah Keteladanan dari Orang Tua

Depok, Al-Nahdlah IBS – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, MA mengatakan, pengasuhan yang terbaik bagi seorang anak adalah keteladanan dari orang tua mereka.

“Meskipun tiga tahun (belajar di Al-Nahdlah) telah terlewati, masih ada tanggung jawab untuk memastikan anak-anak memperoleh hak pendidikan dan pengasuhan secara baik,” ujar Kiai Niam dalam Haflah at-Takharruj 2025 pada Senin (12/5/2025) pagi.

“Dan pengasuhan terbaik itu adalah keteladanan dari orang tua,” sambungnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengingatkan para orang tua bahwa ketika mereka menempatkan anak-anak di lembaga pendidikan, bukan berarti tanggung jawab mereka selesai.

“Tugas mengasuh dan mendidik anak itu adalah tugas yang melekat pada orang tua,” jelas Kiai Niam.

Beliau menambahkan, “sedangkan, ketika mereka sibuk, lalu menempatkan anak-anak di lembaga pendidikan, maka lembaga itu hanya menjalankan fungsi substitusi yang tidak membuat orang tua bebas dari tanggung jawabnya.”

Sebagai informasi, Pondok Pesantren Al-Nahdlah menggelar Haflah at-Takharruj Kelas IX MTs Al-Nahdlah dan XII MA Al-Nahdlah tahun 2025 di Gedung Pemuda Al-Nahdlah, Depok.

Dalam acara yang bertema “Santri Berdaya, Umat Berjaya: dari Pesantren menuju Perubahan Dunia” tersebut, sebanyak 26 santri Kelas IX MTs Al-Nahdlah dan 21 santri Kelas XII MA Al-Nahdlah diwisuda.

Pewarta Foto: Fadhlillah

Get 30% off your first purchase

X