KH Asrorun Niam Sholeh

KH M Asrorun Niam Sholeh: Introspeksi adalah Awal dari Kesuksesan

Setiap orang pasti tidak luput dari kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bersedia untuk memperbaiki diri dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah ia perbuat.

Akan tetapi, kesediaan untuk memperbaiki diri itu tidak bisa direalisasikan sebelum seseorang melakukan satu hal, yaitu introspeksi. Tanpa introspeksi, seseorang tidak akan mengetahui sesuatu yang perlu ia perbaiki pada dirinya.

Pengasuh Pesantren Al-Nahdlah Depok Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA menyebut bahwa introspeksi adalah awal dari kesuksesan seseorang.

“Ketika orang punya kecenderungan berinstrospeksi, maka arahnya adalah perbaikan diri, terus berikhtiar untuk memperbaiki diri. Itulah awal dari kesuksesan kita,” terang Kiai Ni’am dalam Kajian Rutin kitab Syarah Nashoihul Ibad, Sabtu (8/3/2025) pagi.

Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Fatwa ini menerangkan sebuah hadis yang menyebut tiga golongan yang beruntung. Salah satunya adalah orang yang menangis atas kesalahannya.

“Orang yang menangis karena berbuat kesalahan, berarti ia melakukan introspeksi dengan penuh kesadaran bahwa ia pernah melakukan kesalahan,” tuturnya.

Menurut Kiai Ni’am, menangisi kesalahan yang pernah diperbuat itu lebih baik daripada berbangga atas kebaikan yang pernah dilakukan.

“Karena kebaikan yang kita lakukan belum tentu diterima oleh Allah. Sebaliknya, kalau kesalahan yang kita lakukan, itu sudah pasti merupakan bentuk ketidaktaatan kita kepada Allah,” jelasnya.

Introspeksi tidak memandang besar atau kecil sebuah kesalahan. Sekecil apapun kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, ia perlu menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan introspeksi.

“Menyadari bahwa sekecil apapun kesalahan itu (perlu) kita ingat. Sehingga, kita tidak akan mengulanginya, serta berkomitmen untuk memperbaiki diri,” tegas Kiai Ni’am.

Lebih lanjut, Kiai Ni’am menegaskan bahwa dengan perbaikan diri yang dilakukan secara terus-menerus, seseorang dapat mencapai ‘kesempurnaan’ dalam aktivitasnya.

“Dan komitmen untuk memperbaiki diri di dalam setiap waktu dan langkah akan membawa kita menuju ‘kesempurnaan’ dalam aktivitas kita,” pungkasnya.

Direktur Pendidikan Al-Nahdlah: Santri Tidak Hanya Harus Pandai Membaca, Tapi Juga Harus Pandai Menulis

Depok, Al-Nahdlah IBS – Direktur Pendidikan Pesantren Al-Nahdlah Ustadz Rosyidin Effendi, SQ, MA, mengatakan bahwa santri Al-Nahdlah tidak hanya harus pandai membaca, tapi juga harus pandai menulis.

“Santri Al-Nahdlah harus pandai dua hal, yaitu di samping pandai membaca juga pandai menulis,” ujarnya dalam Penutupan Sidang Karya Tulis Ilmiah (KTI) Kelas 12 MA Al-Nahdlah pada Kamis (20/2/2025) kemarin.

Sebelumnya, Ustadz Rosyidin menjelaskan, meskipun Nabi Muhammad Saw itu disifati ummi, yakni tidak bisa membaca dan menulis, hal itu merupakan skenario Allah agar kaum kafir tidak menduga bahwa Al-Qur`an adalah karangan Nabi.

“Tetapi tidak ada alasan bagi kita umat Nabi Muhammad untuk tidak bisa membaca dan menulis,” terangnya.

Menurutnya, bukti bahwa Islam memandang penting kepandaian dalam membaca dan menulis adalah wahyu pertama dan wahyu kedua yang diturunkan kepada Nabi.

“Begitu pentingnya membaca dan menulis hingga Allah menurunkan ayat pertama itu iqra` (Qs. Al-Alaq) dan ayat kedua itu nun wa al-qalami wa ma yasthurun (Qs. Al-Qalam),” jelasnya.

Ustadz Rosyidin mencontohkan, para ulama terdahulu sangat produktif dalam menulis dan melahirkan karya.

“Ulama-ulama kita telah banyak yang menunjukkan kehebatan mereka dalam berkarya, seperti Imam An-Nawawi, yang meskipun usianya hanya 45 tahun, tapi karyanya sangat panjang,” ulasnya.

Ustadz Rosyidin berharap, tradisi menulis di Al-Nahdlah bisa terus dikembangkan dan digalakkan. Apalagi, di era perkembangan teknologi yang begitu pesat seperti saat ini, menulis tidak lagi hanya terbatas dengan pena, tapi juga bisa dengan gadget, komputer, dan sejenisnya.

“Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membekali diri dengan ilmu. Kalau ilmunya cukup, ilmunya mumpuni, maka tulisan kita akan membawa manfaat bagi banyak orang,” tegasnya.

Nashoihul Ibad KH M Asrorun Niam Sholeh

Jangan Meremehkan Ketaatan Kecil, Bisa Jadi Ada Ridla Allah di Dalamnya

Al-Nahdlah IBS – Setiap orang yang beriman tentu berharap dirinya memperoleh Ridla Allah SWT. Dan cara untuk meraih Ridla-Nya adalah dengan menjalankan ketaatan kepada Allah, yakni dengan mengikuti Perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya.

“Jadi, ketika kita berharap memperoleh Ridla Allah SWT, dan Allah menempatkan Ridla-Nya itu di setiap jenis ketaatan, yaitu dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” terang Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad pada Sabtu (11/1/2025) lalu.

Sebelumnya, Kiai Niam menyebutkan sebuah riwayat dari Umar bin Khattab RA yang dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Nashoihul Ibad.

Umar menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan enam hal di dalam enam hal yang lain, salah satunya adalah Allah menyembunyikan Ridla-Nya di dalam ketaatan seorang hamba kepada-Nya.

Ketaatan kepada Allah yang dimaksud oleh Umar tidak terbatas pada ketaatan tertentu, melainkan semua jenis ketaatan tanpa ada pengecualian.

“Jadi, fi tho’atin di sini menggunakan isim nakirah, yang bermakna segala jenis ketaatan,” ujar Kiai Ni’am.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok ini, penggunaan isim nakirah itu bertujuan agar manusia bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua jenis ketaatan dan tidak meremehkan suatu ketaatan hanya karena terlihat kecil.

“Jangan menghina, jangan meremehkan, jangan menggampangkan, apalagi menganggap itu tidak ada (nilai ketaatannya),” tutur Kiai Ni’am. “Karena bisa jadi Ridla Allah berada di ketaatan yang kecil itu.”

Kiai Niam juga mengingatkan agar jangan pernah merasa bangga dengan ketaatan yang nampak besar, karena Allah belum tentu Meridloi ketaatan itu.

“Bisa jadi, ketaatan besar yang kita lakukan itu justru Allah tidak Meridlai, karena mungkin ada unsur sum’ah, riya’,” paparnya.

Oleh karena itu, Kiai Ni’am mengimbau untuk mulai membiasakan diri melakukan ketaatan meski hanya sebatas menjalankan ajaran berdoa sebelum makan, makan dan minum dengan duduk, dan sejenisnya.

Get 30% off your first purchase

X