Allah Swt mendorong para hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan agar memperoleh Ridho-Nya. Banyak sekali amal kebaikan yang dapat dikerjakan oleh manusia, di antaranya adalah dengan berdzikir mengingat Allah.
Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) dalam Nashoihul Ibad menuliskan sebuah riwayat dari Al-Faqih Abu al-Laits tentang tujuh kalimat tayyibah, yang jika dihafal dan diamalkan, maka ia akan mengantarkan pembacanya menuju kedudukan yang mulia di Sisi Allah Swt.
“Al-Faqih Abu al-Laits berkata: barang siapa menghafal tujuh kalimat (tayyibah) maka ia akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan malaikat-Nya,” terang Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (24/8/2024) lalu.
Selain itu, orang yang membaca tujuh kalimat yang dimaksud juga akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya, sekalipun dosanya sebanyak buih di lautan. Ia juga akan menemukan manisnya taat, hidup dan matinya akan menjadi kebaikan.
7 Kalimat Tayyibah
Pertama, kalimat Basmalah (بسم الله الرحمن الرحيم) yang dibaca setiap kali hendak mengerjakan suatu kebaikan.
“Setiap memulai perbuatan baik membaca basmalah. jangan terlewat,” ujar Kiai Ni’am. “Mau mengangkat barang, (baca) Bismillah. Memulai langkah keluar dari rumah untuk pergi ke kantor, (baca) Bismillah.”
Kedua, kalimat Hamdalah (الحمد لله رب العالمين) yang dibaca setelah menyelesaikan suatu aktivitas yang baik.
“Setiap menyelesaikan setiap aktivitas, tentu aktivitas yang baik, dengan memuji Allah, yaitu (mengucapkan) Alhamdulillah,” tutur Kiai Ni’am.
Ketiga, kalimat Istighfar (أستعفر الله العظيم) ketika keluar ucapan yang tidak baik dari lisan atau mulutnya. Misalnya, umpatan buruk, menghina orang lain, membicarakan kejelekan orang lain, dan semacamnya.
Keempat, kalimat Insya Allah (إن شاء الله) yang dibaca ketika merencanakan sesuatu sebagai bentuk penyandaran diri kepada kehendak Allah.
“Karena pada hakikatnya kita ini hanya mampu berikhtiar. Kekuasaan mutlak itu hanya pada Allah Swt,” jelas Kiai Ni’am.
Lebih lanjut, Kiai Ni’am menjelaskan bahwa kalimat Insya Allah merupakan kalimat pendek yang memiliki dimensi spirituaitas yang tinggi serta melahirkan optimisme.
“Ini kalimat pendek tetapi menyebabkan ketahanan tubuh kita. Jadi menyebabkan ketahanan fisik dan psikis kita, mentalitas kita, mentalitas pantang menyerah,” terangnya.
Kelima, kalimat Hauqolah (لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم) yang dibaca ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai. Kalimat tersebut memiliki makna ‘Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan daya dan kekuatan Allah’.
Keenam, kalimat Tarji’ (إنا لله وإنا إليه راجعون) yang dibaca ketika seseorang ditimpa suatu musibah. Menurut Kiai Ni’am, musibah tidak hanya berupa hal yang tidak menyenangkan, melainkan bisa juga berupa hal yang menyenangkan.
“Musibah umumnya musibah yang nggak bagus. tapi bisa jadi musibah atau ujian (berupa) kenikmatan,” bebernya.
Kalimat Tarji’ merupakan manifestasi dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia pada hakikatnya berasal dari Allah dan kelak akan kembali kepada-Nya.
Ketujuh atau terakhir, kalimat Tahlil (لأ إله إلا الله محمد رسول الله) yang dibaca terus-menerus sepanjang siang dan malam.
“Nggak boleh lepas. Dan itu menjadi dzikir keseharian kita, dzikir lisan, dzikir qolbu, sepanjang waktu. Nggak mesti harus sila di sajadah, kemudian baru memulai dzikir,” tegas Kiai Ni’am.
Itulah tujuh kalimat yang jika seseorang mampu menghafal dan membacanya secara istiqomah, maka tujuh kalimat itu dapat menjadi wasilah baginya untuk memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt.


