M Asrorun Niam Sholeh Damai Indonesiaku

Ini Dua Kekuatan Anak Muda Sebagai Generasi Masa Depan

Jakarta, Al-Nahdlah IBS – Generasi muda sebagai generasi masa depan mengemban harapan untuk memberikan perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Mereka memiliki dua modal yang tidak dimiliki oleh generasi tua.

Hal ini disampaikan oleh Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam acara Damai Indonesiaku pada Ahad (27/10/2024) di Gedung Kemenpora RI, Jakarta Pusat.

“Yang tidak dimiliki oleh orang tua (tapi dimiliki oleh anak muda) adalah basthatan fil ‘ilm wal jism. (Yakni) kelapangan daya kritis, daya fikir, mudah menghafal, kuat hafalannya, setelah itu kuat secara fisik,” terang Kiai Ni’am.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah ini mengutip penggalan Qs Al-Baqarah (2) ayat 247 yang berbunyi:

قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىه عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۗ

Artinya: (Nabi mereka) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik.”

Ayat tersebut berbicara tentang pengangkatan Talut sebagai pemimpin bagi Bani Israel. Allah Swt memilih Talut sebagai pemimpin dan Dia menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang kuat (Tafsir Kemenag RI).

Kiai Ni’am mencontohkan, ketika anak-anak muda terpaksa begadang untuk mengerjakan suatu tugas, atau mengerahkan tenaga, daya tahan tubuhnya masih kuat untuk melakukannya.

“Kalau harus begadang, nggak sakit-sakitan. Kalau perlu mengerahkan tenaga, tenaganya masih prima,” tuturnya.

Oleh karena itu, Ketua MUI Bidang Fatwa ini mengimbau kepada anak-anak muda agar tidak menyia-nyiakan dua kekuatan tersebut.

“Inilah dua kekuatan yang menjadi potensi menuju kemajuan kita. Kalau dua ini disia-siakan oleh anak muda, maka matilah dia sebelum kematiannya,” terangnya.

Kiai Ni’am mengutip syi’ir Imam Asy-Syafi’i yang juga sudah sering ia sampaikan dalam sejumlah kesempatan lain.

و من فاته التعليم وقت شبابه – فكبر عليه أربعا لوفاته

Barangsiapa kehilangan kesempatan belajar, mengenyam ilmu pengetahuan, di waktu mudanya,

Maka takbirkan ia empat kali.

Kiai Ni’am menjelaskan, “Apa itu takbir empat kali? (yakni) sebagai simbol kematiannya. Takbir empat kali itu sholat jenazah.”

Acara yang bertajuk “Pemuda Hari Ini, Pemimpin Masa Depan” ini juga diramaikan oleh ratusan santriwan dan santriwati Al-Nahdlah yang hadir ke lokasi.

Adapun Prof Dr KH M Asrorun Ni’am didampingi oleh Ust Riza Muhammad dan Koh Dennis Lim sebagai narasumber lainnya.

Ikut Gerakan Aksi Bergizi, Santri Al-Nahdlah Belajar Pola Hidup Sehat dan Bersih

Depok, Al-Nahdlah IBS – Sivitas akademik Pondok Pesantren Al-Nahdlah Islamic Boarding School mengikuti kegiatan Gerakan Aksi Bergizi di Lapangan Gedung Pusat pada Rabu (4/9/2024) pagi.

Berdasarkan surat Nomor PK.05.01/B.II/2212/2024 dari Kementerian Kesehatan RI perihal pelaksanaan Gerakan Aksi Bergizi Serentak Tahun 2024, Dinas Kesehatan Kota Depok menyelenggarakan Gerakan Aksi Bergizi Serentak se-Kota Depok tahun 2024.

Kegiatan Aksi Bergizi Serentak se-Kota Depok ini diselenggarakan di 38 lokasi khusus (Lokus). Pondok Pesantren Al-Nahdlah Islamic Boarding School terpilih menjadi salah satu lokus mewakili Wilayah UPTD Puskesmas Bojongsari.

Santi Lestiarini, S. KM., Petugas Surveilans Puskesmas Kecamatan Bojongsari mengatakan, kegiatan Gerakan Aksi Bergizi merupakan kegiatan tahunan di lingkungan Kementerian Kesehatan. Sasaran dari kegiatan ini adalah anak usia remaja.

“Biasanya anak usia remaja itu masih belum memerhatikan soal gizi, makan sembarangan, apa yang dimakan itu belum tentu padat gizinya,” tuturnya.

Oleh karena itu, di antara tujuan dari Gerakan Aksi Bergizi ini adalah untuk mengedukasi para remaja agar lebih aware terhadap kesehatan mereka dan lebih memerhatikan makanan yang mereka konsumsi.

“Makanya, ini menjadi kegiatan preventif dan promotif dari Dinas Kesehatan Kota Depok untuk menjemput bola. Supaya nanti generasi penerus ini tidak ada masalah pada gizi mereka di kemudian hari,” beber Santi.

Di antara rangkaian kegiatan pada pagi itu adalah para santri putri minum Tablet Tambah Darah bersama-sama. Ini merupakan langkah untuk mencegah penyakit anemia.

“Kasus anemia ini dampak negatifnya banyak banget. Misalnya, jika anemia, maka kalau melahirkan bisa pendarahan, bayi tumbuh prematur, kemudian nanti berpengaruh terhadap kualitas ASI ketika dia menyusui,” terang Santi. “Serta kita bisa melahirkan anak-anak yang anemia juga. Jadi,nggak akan selesai.”

Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum sekaligus Penanggung Jawab kegiatan, Ustadzah Lilih Sholihat, S. Pd., mengungkapkan rasa syukur karena Al-Nahdlah terpilih menjadi salah satu lokasi kegiatan Gerakan Aksi Bergizi ini.

“Alhamdulillah, jadi satu kecamatan itu dipilih satu, dan Kecamatan Bojongsari itu yang dipilih Al-Nahdlah,” ungkapnya.

Ia berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, para santri mampu menerapkan pola hidup sehat dan bersih, serta bebas rokok.

“Harapannya, setelah ikut acara ini, anak-anak bisa menerapkan pola hidup sehat dan bersih, terus bisa terhindar dari rokok,” ujar Ustadzah Lilih.

Kegiatan Gerakan Aksi Bergizi diawali dengan senam bersama, dilanjut dengan santri putri minum tablet tambah darah, lalu seluruh santri makan bersama, dan diakhiri dengan pemaparan materi terkait gizi remaja, pola hidup sehat, serta bebas rokok dan narkoba.

Nashoihul Ibad KH M Asrorun Niam Sholeh

Kajian Nashoihul Ibad: 5 Petuah Bijak dari Taurat yang Dinukil oleh Hasan Al-Basri

Hasan al-Basri (w 110 H) adalah seorang ulama dari generasi tabi’in yang dikenal memiliki banyak petuah bijaksana. Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) dalam Nashā`ihul ‘Ibād menyebutkan sebuah riwayat dari Al-Basri tentang lima petuah bijak yang ia dapatkan dari kitab Taurat.

5 Petuah Bijak

Pertama, “sesungguhnya kekayaan terdapat di dalam sifat qana’ah” (إن الغنية في القناعة). Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab syarahnya menjelaskan bahwa yang dimaksud al-ghaniyyah adalah kecukupan nafkah (الإكتفاء بالنفقة).

“Nggak ada orang yang lebih kaya dibandingkan dengan orang qanaah, yang menerima atas apa yang sudah ditetapkan oleh Allah,” ujar Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (24/08/2024) lalu.

Menurut Kiai Ni’am, hakikat sifat qana’ah adalah ridlo dengan ketetapan Allah, serta rasa tenang ketika harapan yang dimiliki tidak terwujud. Cara pandang seperti Itulah yang melahirkan kekayaan.

“Banyak harta kalau cara pandangnya itu adalah rakus, tamak, berapapun nggak akan melahirkan sukūn al-qalbi, nggak akan melahirkan ketenangan jiwa,” imbuhnya.

Petuah bijak yang kedua, “Sesungguhnya keselamatan terdapat di dalam kesendirian” (إن السلامة في العزلة). Adapun ‘keselamatan’ yang dimaksud, menurut Al-Bantani, adalah selamat dari penyakit-penyakit lisan.

“Jadi, keselamatan dari ucapan dan omongan yang tidak berguna, itu dengan menyendiri,” terang Kiai Ni’am.

Akan tetapi, Kiai Ni’am menggarisbawahi, menyendiri bukan berarti menjauhi teman. Menyendiri yang dimaksud adalah menghindari nongkrong yang tidak berguna.

“Umumnya, orang yang sering nongkrong tidak berguna itu sering salah ucap, apa saja diomongkan. Entah itu menceritakan kesalahan orang, menggosip, julid, sampai kemudian ngumpat dan menyakiti,” tegasnya.

Petuah yang ketiga, “Sesungguhnya kehormatan diri itu ada saat melarikan diri dari hawa nafsu” (إن الحرمة في وفض الشهوات). Maksudnya adalah dengan meninggalkan dorongan-dorongan negatif untuk berbuat maksiat.

Keempat, “Sesungguhnya kebahagiaan itu terdapat di hari yang panjang” (إن التمتع في أيام طويلة). Al-Bantani menjelaskan, maksud dari ‘hari yang panjang’ adalah hari ketika di akhirat nanti, yang terdapat kenikmatan abadi berupa surga.

“Sesungguhnya, kebahagiaan yang hakiki itu orientasinya adalah di akhirat, kebahagiaan di akhirat. Jangan tertipu mengejar kebahagiaan yang pendek, yaitu kebahagiaan dunia,” tutur Kiai Ni’am.

Petuah bijak yang terakhir atau kelima, “Sesungguhnya kesabaran itu di hari yang sedikit” (إن الصبر في أيام قليلة). Berdasarkan penjelasan Al-Bantani dalam kitabnya, kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran menghadapi sulitnya mengerjakan perintah, menanggung penderitaan, serta sulitnya menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Sementara itu, yang dimaksud ‘hari yang sedikit’ adalah hari di dunia.

 “Jadi, kenapa disebut hari sedikit? Karena kehidupan dunia itu tidak sebanding dengan kehidupan akhirat yang akan kita tempuh nanti,” beber Kiai Ni’am.

Itulah 5 Petuah Bijak yang dikutip oleh Hasan Al-Basri dari kitab Taurat, dan selanjutnya dituliskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Nashoihul Ibad.

Get 30% off your first purchase

X