Kasus Gagal Daftar SNBP, Santri MA Al-Nahdlah: Alhamdulillah, di Sini Semua Disiapkan Dengan Baik

Hari itu, ratusan siswa SMA Negeri 1 Mempawah Kalimantan Barat datang ke sekolah untuk berdemo dan meluapkan kekesalan mereka kepada pihak sekolah.

Mereka berdemo usai gagal mendaftar Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) 2025 akibat keteledoran yang dilakukan oleh pihak sekolah. Kasus serupa juga terjadi di beberapa sekolah lainnya.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Detik, kasus siswa gagal daftar SNBP terjadi di SMA Negeri 4 Karawang, SMA Negeri 17 Makassar, SMK Negeri 1 Depok, MAN 1 Lamongan, SMK Negeri 10 Medan, MAN 2 Model Medan, SMA Negeri 2 Cirebon, SMA Negeri 1 Cileunyi, dan SMK Negeri 2 Surakarta.

Ada banyak hal yang menyebabkan siswa gagal mendaftar dan mengikuti SNBP. Mulai dari koordinasi yang buruk antara sekolah dengan para siswa, pengunggahan dokumen yang tidak sesuai dengan ketentuan, hingga sekolah yang gagal melakukan finalisasi Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS).

Pendaftaran SNBP di MA Al-Nahdlah

Muhammad Alfatih Panatagama adalah seorang siswa kelas XII MA Al-Nahdlah Depok. Tahun ini, ia terpilih sebagai siswa eligible dan berhak untuk mendaftar dan mengikuti SNBP.

“Saya tahu berita itu (siswa eligible gagal mendaftar SNBP), karena sempat viral,” tuturnya.

Santri yang akrab dipanggil Fatih ini mengaku bersyukur karena kasus serupa tidak terjadi di MA Al-Nahdlah. Ia bersama delapan temannya yang terpilih menjadi siswa eligible telah mendaftarkan diri dan mengikuti SNBP pada Selasa (11/2/2025) lalu.

“Alhamdulillah proses pendaftaran berjalan lancar,” ungkapnya.

Untuk jalur SNBP, Fatih memilih program studi Silvikultur di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai pilihan pertama dan program studi Hubungan Internasional di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pilihan kedua.

Ketika mengetahui berita tentang siswa eligible gagal mendaftar SNBP, Fatih mengaku tidak khawatir sama sekali. Hal itu lantaran pihak MA Al-Nahdlah telah mempersiapkan pendaftaran SNBP dengan sangat baik.

“Ketika berita itu muncul, Alhamdulillah Al-Nahdlah sudah prepare semua, sudah selesai semua pendaftaran-pendaftarannya,” ujarnya.

Berdasarkan penjelasannya, baik wali kelas maupun kepala madrasah rutin melakukan update. Sehingga, kasus seperti keterlambatan pendaftaran maupun kasus lain yang bisa membuat siswa gagal mendaftar SNBP dapat diantisipasi.

MA Al-Nahdlah sendiri selalu berupaya memberikan dukungan yang maksimal kepada para santri kelas XII yang berencana lanjut ke jenjang pendidikan tinggi. Harapannya, dengan dukungan tersebut, mereka bisa masuk ke PTN favorit yang mereka impikan.

Selain memfasilitasi pendaftaran SNBP maupun SPAN-PTKIN (jalur undangan untuk PTKIN), madrasah yang berada di bawah naungan eLSAS Foundation juga memberikan pendampingan Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) kepada para santri secara gratis.

9 Santri Kelas XII MA Al-Nahdlah Ikuti Pendaftaran SNBP 2025

Depok, Al-Nahdlah IBS – Sembilan santri kelas XII MA Al-Nahdlah mengikuti pendaftaran Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) di Gedung Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) Al-Nahdlah pada Selasa (11/2/2025) pagi.

Sembilan santri itu merupakan santri yang berstatus “eligible”. Santri atau siswa eligible adalah mereka yang memenuhi standar atau kriteria tertentu untuk mendaftarkan diri masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lewat jalur SNBP.

Sembilan santri tersebut, antara lain: M Alfatih Panatagama, Ashila Aurellya, Nurul Safiqri, Intan Akmala Beauty, Karima Zahara, Keysa Zainuny Elrahmi, Maura Aprilla Dwi Pramesti, Aurora Sesha, dan Feyfa Prastawa.

Sebagai informasi, kuota SNBP untuk setiap sekolah/madrasah ditentukan oleh akreditasi masing-masing. Bagi yang memiliki Akreditasi A seperti MA Al-Nahdlah, kuota yang diberikan adalah 40 persen dari jumlah siswa Kelas XII secara keseluruhan.

Salah seorang santri eligible M Alfatih Panatagama mengatakan, ia sangat bersyukur karena berkesempatan untuk mengikuti seleksi masuk PTN lewat jalur SNBP.

“Sangat bersyukur sekali bisa mendaftar (seleksi masuk PTN) lewat jalur ini, yang mana untuk bisa ikut, kami harus melewati seleksi dari madrasah. Dan Alhamdulillah salah terpilih untuk bisa mengukutinya,” tuturnya.

Pada SNBP, santri yang akrab dipanggil Fatih ini memilih Program Studi Silvikultur Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk pilihan pertama. Sedangkan, untuk pilihan kedua, ia memilih Program Studi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Tentu saya berharap saya bisa diterima di salah satu pilihan saya tersebut,” ujarnya.

Fatih menambahkan, “saya juga berharap, dengan saya diterima, saya bisa membuka ‘jalan’ bagi adik-adik kelas saya nanti.”

Get 30% off your first purchase

X