Nashoihul Ibad KH M Asrorun Niam Sholeh

Kajian Nashoihul Ibad: Dilarang Buru-buru, Kecuali dalam 5 Hal Ini

Terburu-buru dalam melakukan sesuatu adalah termasuk dari perbuatan setan. Itulah yang disebutkan dalam sebuah riwayat dari Hatim al-‘Ashom. Dan terburu-buru hanya akan melahirkan penyesalan.

Hal ini disampaikan oleh Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad pada Sabtu (26/10) pagi.

“Jadi ketika kita melakukan sesuatu itu dipikir dulu, baru melakukan. Jangan melakukan baru menyesal belakangan,” ujar Kiai Ni’am.

Banyak contoh tindakan terburu-buru yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, menyebarkan informasi atau berita yang didapat tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

“Berita itu mengandung dua kemungkinan. Kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Jangan buru-buru dipercaya, jangan buru-buru disebar. Karena buru-buru itu aktivitas setan,” terang Kiai Ni’am.

Pada dasarnya, tindakan terburu-buru dalam melakukan sesuatu adalah termasuk perbuatan setan. Namun, terdapat pengecualian dalam lima hal.

“Kecuali pada lima tempat. Karena sesungguhnya buru-buru pada lima hal ini termasuk bagian dari sunnah-sunnah Rasul Saw,” ungkap Kiai Ni’am.

5 Hal yang Dibolehkan Terburu-buru

Pertama, menjamu tamu. Seorang muslim dianjurkan terburu-buru dalam menjamu tamu dan memberikan jamuan yang terbaik.

“Memberi makan (penghormatan) kepada tamu itu tidak boleh ditunda-tunda,” sebut Kiai Ni’am

Meski perlu mengusahakan jamuan yang terbaik, seorang muslim tidak perlu memaksakan diri. Jamuan terbaik tersebut tetap disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

“Nah. ikramu ad-Dlaif (memberi penghormatan kepada tamu) adalah hal yang harus disegerakan. Tetapi bentuknya disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan. Tidak usah memaksakan diri. Tidak boleh,” beber Kiai Ni’am.

Kedua, mengurus jenazah. Seseorang yang sudah dipastikan meninggal dunia hendaknya segera diurus jenazah atau mayitnya. Mulai dari memandikan, mengkafani, menyolati, hingga menguburkannya.

“Jadi tidak boleh ditunda-tunda. Misalnya hanya karena menunggu hari baik. Meninggalnya Kamis, tapi menunggu Jumat (untuk mengurusnya). Itu nggak ada sunnahnya,” papar Kiai Ni’am.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok ini, menunda pengurusan jenazah dibolehkan ketika ada pertimbangan syariat.

“Misalnya, tidak segera dikuburkan karena ada indikasi tindak kejahatan. Kemudian, aparat penegak hukum meminta otopsi untuk mengungkap dugaan terjadinya kejahatan. Ini boleh, karena ada pertimbangan syar’i di situ,” ulas Kiai Ni’am.

Alasan lain yang dibolehkan untuk tidak segera menguburkan jenazah adalah untuk menunggu orang yang secara syariat patut ditunggu. Seperti orang tua, pasangan, atau anak dari jenazah.

Ketiga, menikahkan anak perempuan. Terburu-buru dalam menikahkan anak perempuan yang sudah menemukan pasangan yang cocok itu disunnahkan.

“Jadi kalau ada yang melamar, sekira pas, agamanya bagus, anaknya setuju, sudah (langsung nikahkan),” tutur Kiai Ni’am.

Ketika anak perempuan sudah menemukan pasangan yang cocok, orang tua tidak perlu menunda untuk menikahkannya. Misalnya, untuk mencari yang mereka anggap lebih pantas, lebih mapan, dan semacamnya.

“Tapi kalau belum ketemu ya jangan dipaksa. Apalagi disindir-sindir terus. Anak bisa stres,” kata Kiai Ni’am.

Keempat, membayar hutang. Seseorang yang berhutang hendaknya segera melunasi hutangnya. Ia dilarang menunda-nunda melunasi hutangnya.

“Yang punya hutang segera lunasi, jangan menunda-nunda. Apalagi berharap (orang yang memberi hutang) lupa,” jelas Kiai Ni’am.

Orang yang gemar menunda-nunda pembayaran hutang, apalagi sering menghindar saat ditagih, niscaya Allah akan menyempitkan rezekinya.

“Kalau punya hutang, kemudian orang mau nagih malah menghindar, dan terbersit di dalam pikirannya untuk tidak membayar hutang, maka Allah akan sulitkan dia membayar hutang. Bukan hanya sulit membayar hutang, tetapi juga seret rezekinya,” lanjut Kiai Ni’am.

Kelima, bertaubat dari dosa. Setiap orang pasti pernah berbuat dosa. Dan ketika ia tergelincir ke dalam dosa atau kemaksiatan, hendaknya ia harus terburu-buru atau menyegerakan bertaubat.

“Jadi, begitu kita tergelincir ke dalam perbuatan dosa, segera bertaubat. Karena taubat kita akan menghapus dosa yang pernah dilakukan,” tegas Kiai Ni’am.

Rasulullah Saw yang dijaga dari dosa dan maksiat (ma’shum) saja senantiasa memohon ampunan kepada Allah dengan membaca istighfar. Oleh karena itu, manusia biasa yang tak luput dari dosa sudah seharusnya istiqomah dalam beristighfar.

“Makanya, setiap kali sholat fardlu, khususnya santriwan dan santriwati, jangan langsung pergi. Habis sholat langsung baca istighfar dan doa wirid yang sudah ditetapkan dan dibiasakan,” pungkas Kiai Ni’am.

Keutamaan Mentraktir Orang Lain Menurut Hadis Nabi

Memberi atau mentraktir makan orang lain, khususnya saudara sesama muslim, memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah Allah Swt akan menjauhkannya dari api neraka.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, MA saat mengutip sebuah riwayat dari Abu Hurairah RA berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. قَالَ: مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ شَهْوَتَهُ حَرَّمَهُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ النَّارِ

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Saw bersabda: barangsiapa memberi makan saudaranya muslim keinginannya, niscaya Allah mengharamkan kepadanya api neraka.

“Jadi, kalau ngajak, mentraktir orang, itu pada hakikatnya bukan kepentingan orang yang ditraktir, tapi kepentingan orang yang mentraktir,” terang Kiai Ni’am dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (26/10) pagi.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok ini, momen mentraktir orang lain menjadi kesempatan berharga bagi orang yang mentraktir.

“Kesempatan kita untuk berbagi guna menyelamatkan diri dari kobaran api neraka,” tuturnya.

Ketua MUI bidang Fatwa ini melanjutkan, keberadaan orang yang mau ditraktir menjadi keuntungan bagi orang yang mau mentraktir. Sehingga, orang yang mentraktir bisa mewujudkan niat baiknya.

“Beruntunglah kalau masih ada orang yang mau ditraktir, kalau nggak ada yang mau ditraktir? Kan repot,” ujarnya.

Kiai Ni’am melanjutkan, “Sekarang nyari orang yang mentraktir, bukan nyari orang yang ditraktir.”

Selain itu, dalam riwayat lain dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, keutamaan orang yang mentraktir dijelaskan lebih rinci.

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِ بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. قَالَ: مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ مِنَ الْخُبْزِ حَتَّى يُشْبِعَهُ وَسَقَاهُ مِنَ المَاءِ حَتَّى يُرْوِيَهُ بَعُدَ مِنَ النَّارِ سَبْعَ خَنَادِقَ كُلُّ خَنْدَقٍ مَسِيْرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ

Artinya: Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa memberi makan saudaranya berupa roti hingga membuatnya kenyang dan memberi minum hingga dia tidak kehausan, ia dijauhkan dari neraka sejauh tujuh parit. Setiap paritnya sekira perjalanan tujuh ratus tahun.

Berdasarkan hadis tersebut, Kiai Ni’am menerangkan bahwa sebaiknya orang yang ditraktir adalah orang yang memang benar-benar membutuhkan makanan.

“Jadi mentraktirnya itu mentraktir orang yang memang butuh. Kalau mentraktir orang yang nggak butuh, kita beri makanan ternyata nggak dimakan, mubadzir jadinya,” ucapnya.

Menurut Kiai Ni’am, jauhnya jarak dari neraka sebagaimana yang digambarkan oleh riwayat tersebut bermakna orang yang gemar mentraktir saudaranya kelak akan ditempatkan di surga.

“Kita bisa bayangkan, jauh dari api neraka. Kalau jauh dari api neraka di mana tempatnya? Nggak ada tempat yang lain kecuali surga,” tegasnya.

“Jangankan memberi makan orang, memberi makan kucing saja bisa mengantarkan kita masuk surga. Bahkan memberi minum anjing yang sedang kehausan,” pungkasnya.

Nashoihul Ibad KH M Asrorun Niam Sholeh

Kajian Nashoihul Ibad: 5 Petuah Bijak dari Taurat yang Dinukil oleh Hasan Al-Basri

Hasan al-Basri (w 110 H) adalah seorang ulama dari generasi tabi’in yang dikenal memiliki banyak petuah bijaksana. Ibnu Hajar al-Asqalani (w 852 H) dalam Nashā`ihul ‘Ibād menyebutkan sebuah riwayat dari Al-Basri tentang lima petuah bijak yang ia dapatkan dari kitab Taurat.

5 Petuah Bijak

Pertama, “sesungguhnya kekayaan terdapat di dalam sifat qana’ah” (إن الغنية في القناعة). Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab syarahnya menjelaskan bahwa yang dimaksud al-ghaniyyah adalah kecukupan nafkah (الإكتفاء بالنفقة).

“Nggak ada orang yang lebih kaya dibandingkan dengan orang qanaah, yang menerima atas apa yang sudah ditetapkan oleh Allah,” ujar Prof Dr KH M Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam Kajian Mingguan kitab Nashoihul Ibad, Sabtu (24/08/2024) lalu.

Menurut Kiai Ni’am, hakikat sifat qana’ah adalah ridlo dengan ketetapan Allah, serta rasa tenang ketika harapan yang dimiliki tidak terwujud. Cara pandang seperti Itulah yang melahirkan kekayaan.

“Banyak harta kalau cara pandangnya itu adalah rakus, tamak, berapapun nggak akan melahirkan sukūn al-qalbi, nggak akan melahirkan ketenangan jiwa,” imbuhnya.

Petuah bijak yang kedua, “Sesungguhnya keselamatan terdapat di dalam kesendirian” (إن السلامة في العزلة). Adapun ‘keselamatan’ yang dimaksud, menurut Al-Bantani, adalah selamat dari penyakit-penyakit lisan.

“Jadi, keselamatan dari ucapan dan omongan yang tidak berguna, itu dengan menyendiri,” terang Kiai Ni’am.

Akan tetapi, Kiai Ni’am menggarisbawahi, menyendiri bukan berarti menjauhi teman. Menyendiri yang dimaksud adalah menghindari nongkrong yang tidak berguna.

“Umumnya, orang yang sering nongkrong tidak berguna itu sering salah ucap, apa saja diomongkan. Entah itu menceritakan kesalahan orang, menggosip, julid, sampai kemudian ngumpat dan menyakiti,” tegasnya.

Petuah yang ketiga, “Sesungguhnya kehormatan diri itu ada saat melarikan diri dari hawa nafsu” (إن الحرمة في وفض الشهوات). Maksudnya adalah dengan meninggalkan dorongan-dorongan negatif untuk berbuat maksiat.

Keempat, “Sesungguhnya kebahagiaan itu terdapat di hari yang panjang” (إن التمتع في أيام طويلة). Al-Bantani menjelaskan, maksud dari ‘hari yang panjang’ adalah hari ketika di akhirat nanti, yang terdapat kenikmatan abadi berupa surga.

“Sesungguhnya, kebahagiaan yang hakiki itu orientasinya adalah di akhirat, kebahagiaan di akhirat. Jangan tertipu mengejar kebahagiaan yang pendek, yaitu kebahagiaan dunia,” tutur Kiai Ni’am.

Petuah bijak yang terakhir atau kelima, “Sesungguhnya kesabaran itu di hari yang sedikit” (إن الصبر في أيام قليلة). Berdasarkan penjelasan Al-Bantani dalam kitabnya, kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran menghadapi sulitnya mengerjakan perintah, menanggung penderitaan, serta sulitnya menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Sementara itu, yang dimaksud ‘hari yang sedikit’ adalah hari di dunia.

 “Jadi, kenapa disebut hari sedikit? Karena kehidupan dunia itu tidak sebanding dengan kehidupan akhirat yang akan kita tempuh nanti,” beber Kiai Ni’am.

Itulah 5 Petuah Bijak yang dikutip oleh Hasan Al-Basri dari kitab Taurat, dan selanjutnya dituliskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Nashoihul Ibad.

Get 30% off your first purchase

X