Khutbah Jumat: Kemerdekaan Itu Butuh Perjuangan

Khutbah Jumat ini mengajak para jamaah untuk merefleksikan kembali makna kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia, serta mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang ada di baliknya.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَعَزَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَذَلَّ الْكَافِرِيْنَ، وَنَصَرَ عِبَادَهُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ سَعَادَةَ الْمُتَّقِيْنَ، وَفِي عِصْيَانِهِ هَلَاكَ الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ دَرْبِهِمْ وَاتَّبَعَ نَهْجَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أما بعد.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan cara mematuhi segala ketentuan-Nya, baik yang berupa perintah untuk mengerjakan kebaikan maupun perintah untuk meninggalkan kemaksiatan.

Tiada cara yang lebih sempurna untuk membuktikan rasa syukur kita atas segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah Swt selain menggunakan nikmat tersebut untuk mengerjakan kebaikan, dan juga sebaliknya, tidak menggunakan nikmat tersebut untuk berbuat kemaksiatan.

Setiap detik waktu kita adalah nikmat dari Allah, setiap hembusan nafas kita adalah nikmat dari Allah, setiap tetes darah yang mengalir di tubuh kita adalah nikmat dari Allah, dan masih banyak nikmat dari Allah lainnya yang tidak akan mampu kita sebutkan semuanya satu persatu.

Sepanjang kita masih bisa hidup, bisa bernafas, sepanjang itu pula kita patut berkomitmen untuk terus meningkatkan ketakwaan kita. Hingga pada saat ujung waktu kita, pada saat kita menghembuskan nafas terakhir nanti, kita meraih keadaan husnul khotimah.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Sebentar lagi, kita sebagai bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. Perayaan yang dihelat untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu dalam melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan, mengingat kembali bahwa kemerdekaan bangsa ini bukanlah hadiah, melainkan diraih dengan berdarah-darah.

Semua elemen saling bahu-membahu. Ada prajurit yang selalu siap bertaruh nyawa dalam pertempuran dengan mengangkat senjata mereka. Ada diplomat yang selalu siap ditawan atau bahkan dibunuh saat mendatangi markas penjajah demi memperjuangkan kemerdekaan lewat jalur perundingan. Semua hanya demi satu kepentingan, yaitu mewujudkan bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat atas nasib sendiri.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Saat kita membicarakan kemerdekaan, terlebih dulu kita perlu memahami makna kata ‘merdeka’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka memiliki tiga makna.

Pertama, merdeka dimaknai sebagai ‘bebas’ dan ‘berdiri sendiri’. Bebas dari penjajahan, bebas dari perbudakan, dan semacamnya.

Kedua, merdeka dimaknai sebagai ‘tidak terkena tuntutan’ atau ‘terlepas dari tuntutan’. Tidak ada tuntutan atau beban yang ditanggung.

Ketiga, merdeka dimaknai sebagai ‘leluasa’ atau ‘tidak bergantung kepada pihak tertentu’. Merdeka berarti menggantungkan nasib pada diri sendiri dan tidak memerlukan pihak lain.

Dengan demikian, bangsa Indonesia merdeka bermakna bangsa Indonesia bebas dari penjajahan, terlepas dari tuntutan yang memaksa mereka tunduk, serta tidak lagi bergantung kepada penjajah dan mampu menentukan nasib sendiri.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Dalam skala yang terkecil, manusia sebagai individu juga perlu menjadi merdeka. Dan manusia yang merdeka adalah manusia yang bebas dari penjajahan yang berupa kebodohan, kemiskinan, perbudakan hawa nafsu, dan semacamnya.

Sebagaimana suatu bangsa yang harus berjuang secara berdarah-darah untuk meraih kemerdekaan, seorang manusia juga pasti memerlukan perjuangan yang sama untuk menjadi manusia merdeka.

Misalnya, untuk merdeka dari kebodohan, seseorang tidak bisa belajar hanya ala kadarnya, tidak bisa belajar hanya ketika disuruh, hanya ketika ada tugas. Seseorang yang ingin merdeka dari kebodohan harus belajar secara berdarah-darah, belajar secara tekun, dan yang paling penting adalah konsisten atau istiqomah.

Begitu pula dengan seseorang yang ingin merdeka dari kemiskinan sehingga dapat mencukupi kebutuhannya, ia perlu bekerja secara berdarah-darah. Ia perlu memutar otak agar bisnis tetap jalan, bangun pagi buta agar tidak telat masuk kerja, panas-panasan maupun hujan-hujanan untuk menuju tempat kerja, atau berdesak-desakan di angkutan umum demi menghemat pengeluaran.

Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa perjuangan. Tidak ada kemerdekaan yang diraih tanpa cucuran keringat. Setiap kemerdekaan membutuhkan perjuangan atau usaha yang sungguh-sungguh. Meski demikian, semua itu akan terbayar ketika kita berhasil lepas dari kebodohan, lepas dari kemiskinan, dan lepas dari segala bentuk penjajahan lainnya.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah,

Akan tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa di samping berjuang dan berusaha secara berdarah-darah, sebagai seorang hamba, kita juga perlu berdoa, memohon pertolongan kepada Dzat yang Maha Berdiri Sendiri, Dzat yang menjadi sandaran seluruh makhluk-Nya, yaitu Allah Swt.

Di satu sisi, kita berjuang secara berdarah-darah untuk memerdekakan diri dari ketergantungan pada pihak lain, kepada sesama makhluk. Dan di sisi lain, kita sebagai hamba menggantungkan diri kepada Allah Swt.

Dengan kata lain, kita membebaskan diri dari ketergantungan atau penghambaan kepada makhluk, dan menuju ketergantungan atau penghambaan total kepada Allah Swt. Tath-hir an-nafsi min ‘ibadatil khalqi ila ‘ibadatil khaliq. Dan konsep kemerdekaan seperti ini selaras dengan konsep tauhid dalam Islam.

Sehebat apapun manusia, ia tetaplah hamba Sang Pencipta, tetap butuh Pertolongan dan Kasih Sayang-Nya. Sebagaimana Firman Allah dalam Qs. Fathir ayat 15, Ya ayyuha an-nas antum al-fuqara`u ila Allahwa Allahu huwa al-Ghaniyyu al-Hamid. Wahai manusia, kalian semua memerlukan Allah. Hanya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تلاوته إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

ِ عِبَادَ اللّٰهِ،إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

KH M Asrorun Niam Sholeh: Hakikat Merdeka Adalah Tidak Bergantung pada Makhluk

Depok, Al-Nahdlah IBS – Bangsa Indonesia akan memperingati hari ulang tahun ke-80 kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2025 nanti. Ini menjadi momentum yang tepat untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok Prof Dr KH M Asrorun Niam Sholeh, MA mengatakan bahwa hakikat komitmen kemerdekaan adalah tidak bergantung kepada yang lain.

“Komitmen kemerdekaan itu pada hakikatnya adalah kita tidak mau bergantung, tidak mau dijajah, diperbudak,” ujarnya dalam Kajian Mingguan Nashoihul Ibad, Sabtu (2/8/2025) pagi.

Orang yang merdeka adalah orang yang tidak bergantung kepada orang lain. Sebagaimana bangsa yang merdeka adalah bangsa yang tidak bergantung kepada bangsa lain.

Menurut Kiai Niam, kemerdekaan yang seperti itu adalah hakikat dari Tauhid, yakni memerdekakan diri atau membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk.

“Ini hakikat Tauhid, membebaskan diri dari penghambaan kepada sesama (makhluk) menuju penghambaan total kepada Allah Swt,” jelasnya.

Ketua MUI Bidang Fatwa ini juga menyebutkan definisi lain dari tauhid, yakni tahrirul qalbi min ‘ibadatil khalqi ila ‘ibadatil khaliq, yang bermakna membebaskan hati dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Khalik.

“Kita tidak boleh menggantungkan diri, merasa faqir (butuh), meminta-minta kepada sesama makhluk,” tegasnya.

Kiai Niam melanjutkan, manusia sebagai makhluk tidak boleh menggantungkan diri pada makhluk lain lantaran sesama makhluk mempunyai problem yang sama.

“Kalau kita bergantung kepada sesama makhluk (saat menghadapi masalah), maka masalah tidak akan selesai,” tuturnya.

Kiai Niam mengimbuhkan, “wong yang kita jadikan tempat bergantung juga menghadapi masalah yang sama.”

Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Mengisi Kemerdekaan Dengan Menjadi Manusia Merdeka

Masyarakat Indonesia sedang merayakan Hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024 lalu. Sebagai umat Islam, tidak ada salahnya jika melakukan refleksi terkait nikmat kemerdekaan yang telah diraih oleh Bangsa Indonesia. Di antara bentuk refleksi tersebut adalah berupa khutbah Jum’at yang bertema kemerdekaan berikut ini:

Khutbah Pertama:

الحمد لله رب العالمين ,به نستعين وعلى أمور الدنيا والدين, والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أشهد أن لآإله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمد عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد. أما بعد.

فيا عباد الله, أصيكم وإياي بتقوى الله. كما قال تعالى في كتابه الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. يآءيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. وقال أيضا: يآءيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد, واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala limpahan Rahmat dan Karunia-Nya. Rahmat dan Karunia yang tiada habisnya, yang seandainya manusia paling pandai berhitung mencoba menghitung jumlahnya, ia tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada suri teladan kita Nabi Muhammad Saw., yang telah menuntun dan membina umatnya hingga akhir hayatnya.

Di antara Rahmat Allah Swt. yang patut kita syukuri adalah kemerdekaan negara kita tercinta Republik Indonesia. Tepat 79 tahun yang lalu, Jum`at 17 Agustus 1945, sebuah teks singkat, yang sekarang kita kenal sebagai teks proklamasi, dibacakan oleh Ir. Soekarno. Teks singkat, yang tidak akan pernah terbaca tanpa perjuangan seluruh rakyat Indonesia, yang bahu-membahu mengusir penjajah, mengorbankan segenap jiwa dan raga mereka, mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Hadirin yang berbahagia,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka memiliki arti bebas. Merdeka juga diartikan sebagai berdiri sendiri, tidak bergantung pada pihak lain. Bangsa yang merdeka artinya bangsa yang bebas dari penjajahan, dari penindasan, dari kesewenang-wenangan bangsa lain. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang bebas menentukan arah dan tujuan sendiri dan tidak lagi terikat dengan arahan dari bangsa lain.

Meski dikatakan telah bebas, tidak lagi tertindas, tidak lagi terjajah, perjuangan pasca-kemerdekaan bisa jadi lebih berat dibandingkan perjuangan pada masa sebelum merdeka. Mengapa? Karena ketika sebuah bangsa telah merdeka, bangsa itu menjadi bangsa yang mandiri, menentukan nasibnya sendiri, dan tidak lagi menggantungkan diri pada pihak lain. Bangsa yang merdeka harus bersedia untuk selalu mempersiapkan diri, meningkatkan kualitas, agar tidak salah menentukan arah.

Di saat seperti itu, lawan yang dihadapi bukan lagi penjajah, lawan yang dihadapi kini adalah diri sendiri, bangsa sendiri. Melawan bangsa sendiri bermakna melawan kebodohan masyarakat, melawan kemiskinan, kejahatan, keegoisan, serta hal-hal negatif lain yang harus diperangi agar menjadi bangsa yang lebih baik. Tentu ini menjadi tugas sangat berat. Barangkali ini yang Ir. Soekarno maksud saat ia mengatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Sebagai bagian dari bangsa yang luhur, setiap warga negara Indonesia, termasuk kita semua, seyogyanya mengambil bagian dalam perjuangan di era pasca-kemerdekaan. Secara khusus, bagi umat muslim Indonesia, perjuangan menjaga dan merawat kemerdekaan ini juga merupakan salah satu wujud syukur kepada Allah yang telah menganugerahkan nikmat luar biasa yang satu ini. Kita pun bisa melakukannya dengan berbagai cara, sesuai dengan keahlian masing-masing.

Ma’asyiral hadlirin rahimakumullah,

Yang tak kalah penting, di samping merawat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita sebagai individu yang memiliki keistimewaan masing-masing juga harus terus berupaya menjadi seorang manusia yang merdeka. Sebagaimana bangsa yang merdeka, manusia yang merdeka juga bebas menentukan arah hidup dan membangun cita-cita. Ia berdiri sendiri untuk meniti jalan hidup sesuai arah yang telah ia tentukan. Nasib orang merdeka sepenuhnya berada di tangannya, tidak lagi bergantung pada orang lain.

Oleh karena itu, untuk menyongsong kemerdekaan itu, setiap kita harus mempersiapkan diri dengan cara memerdekakan diri dari kebodohan, dari belenggu potensi-potensi negatif di dalam diri, dan merdeka dari berbagai hal negatif lainnya. Itulah yang sedang kita lakukan di Pondok Pesantren Al-Nahdlah tercinta ini. Di sinilah kita ditempa agar kelak menjadi manusia merdeka.

Kita mengaji dan mengkaji agar merdeka dari kebodohan. Kita diajarkan berbagi dengan sesama agar merdeka dari sifat kikir. Kita diajarkan hidup sederhana agar merdeka dari sifat rakus dan tamak yang seringkali merugikan banyak orang lain. Kita diajarkan untuk menerima konsekuensi dari segala tindakan kita agar kelak menjadi orang yang bisa bertanggung jawab, terkhusus tanggung jawab pada diri sendiri. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:  kullukum ra’in wa kullukum mas`ulun ‘an ra’iyyatihi, setiap kalian adalah pengemban tanggung jawab dan kelak akan diminta pertanggungjawaban atas semua tanggung jawab itu.

Gelar manusia merdeka tidak bisa diraih dalam waktu singkat. Belajar menjadi manusia merdeka terus dilakukan hingga akhir hayat. Sehingga, tidak hanya menjadi manusia merdeka di dunia, melainkan juga menjadi manusia merdeka di akhirat kelak.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. يآءيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم, لايضركم من ضل إذا اهتديتم, إلى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم تعملون.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم, ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم, وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم, وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الرحمين.

Khutbah Kedua:

 الحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رُسُلِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى, وَعَلىَ خَاتِمِهِمْ مُحَمَّدٍ الْمُجْتَبَى, وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَئِمَّةِ الْهُدَى, وَمَنْ بِهِمْ اقْتَدَى فَاهْتَدَى. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلَّا اللّه وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْد

فَيَا عباد الله, أُصِيْكُمْ وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللّه تَعَالى  فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ, بِسْمِ اللّهِ الرّحْمنِ الرّحِيْمِ, ٰيآيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا, يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَعُوْذُ بِاللّه مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ. بِسْمِ اللّه الرّحمن الرّحِيْمِ. إِنَّ اللّه وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ آمَنُوْا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا. اللّـهُمَّ صَلّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا صَلّيْتَ عَلَى سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيّدِنا إبراهيم وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سيّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

Get 30% off your first purchase

X