Berikut ini adalah contoh Khutbah Jumat bertema lingkungan. Khutbah kali ini berjudul Setiap Kita Adalah Penghasil Sampah, dan Kelak Akan Diminta Pertanggungjawaban.
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ تَفَرَّدَ بِالرُّبُوْبِيَّةِ وَالْأُلُوْهِيَّةِ كَمَالًا, وَاخْتَصَّ بِالْأَسْمَاءِ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتِ الْعُلَى جَلَالًا وَجَمَالًا, أَحْمَدُهُ تَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى شَوَابِغَ نِعَمِهِ إِفْضَالًا, وَجَزِيْلَ عَطَآئِهِ نَوَالًا. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلهَ إِلاَّ اللّه وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِأَوْسَطِ شَرِيْعَةٍ وَأَكْمَلِهَا خِلَالًا. اللّهمَ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ, صَلَاةً وَسَلَامًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْد فَيَا عِبَادَ اللّهِ, أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّهِ. قَالَ اللّه تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Hari ini, 21 Februari, diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Peringatan HPSN bertujuan untuk mengajak masyarakat Indonesia agar mereka lebih peduli terhadap persoalan sampah. Namun, ada kisah pilu di balik peringatan HPSN ini.
Kisah ini terjadi pada 21 Februari 2005 atau 20 tahun silam, yang kemudian dikenal sebagai tragedi Leuwigajah. Leuwigajah adalah nama sebuah kelurahan yang terletak di wilayah Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Di kelurahan itu, terdapat sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menampung sampah-sampah kiriman dari Cimahi dan sekitarnya, termasuk Kota Bandung yang menjadi penyumbang sampah terbanyak setiap harinya.
Pada malam sebelumnya, hujan dengan intensitas yang cukup tinggi mengguyur wilayah Leuwigajah, termasuk gunung sampah yang menumpuk di area TPA. Guyuran hujan yang berlangsung sepanjang malam membuat gunung sampah sepanjang 200 meter dengan tinggi 60 meter itu longsor. Akibatnya, longsoran tersebut menerjang dua kampung di sekitar TPA, yakni Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. 157 jiwa melayang akibat tertimbun sampah.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk bermuhasabah, sejauh mana kepedulian kita terhadap persoalan sampah?
Untuk diketahui, selain krisis iklim, persoalan lingkungan lain yang dihadapi oleh seluruh dunia saat ini adalah persoalan sampah. Khusus di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Menunjukkan, jumlah sampah di seluruh wilayah tanah air menyentuh angka 27,7 juta ton sampah pada 2024.
Peliknya persoalan sampah ini dapat dilihat, misalnya, dari unggahan kelompok anak muda yang dikenal sebagai Pandawara Group. Melalui akun media sosial, hampir setiap pekan, atau bahkan setiap hari, mereka selalu menghadapi timbunan sampah di sungai-sungai hingga pantai-pantai di Indonesia. Bahkan, terkadang lokasi-lokasi yang pernah mereka bersihkan, kembali penuh dengan sampah saat mereka mengunjungi sungai tersebut untuk kali kedua.
Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk menanggulangi persoalan sampah ini. Dari sisi kebijakan, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden RI Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Melalui Perpres tersebut, Pemerintah menetapkan target 100% sampah terkelola dengan baik pada 2025, atau disebut juga “2025 Indonesia Bersih Sampah”.
Upaya lain yang Pemerintah lakukan adalah dengan mengembangkan teknologi dan inovasi pengelolaan sampah. Misalnya, Pemerintah sedang menggarap pabrik pengolahan yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara di Rorotan, Jakarta Utara.
Pabrik pengolahan ini diklaim sebagai pabrik dengan kapasitas pengolahan terbesar di dunia, yakni sebanyak 2.500 ton per hari, melebihi kapasitas pabrik pengolahan sampah terbesar di dunia yang terdapat di Israel. Pabrik tersebut memiliki kapasitas pengolahan sampah sebanyak 1.500 ton per hari.
Ma’asyiral al-Hadlirin Rahimakumullah,
Tentu saja, Pemerintah bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas persoalan sampah yang pelik ini. Semua elemen harus terlibat aktif agar persoalan ini bisa diatasi. Masalah sampah harus ditangani sejak dari hulu hingga hilir. Disadari atau tidak, setiap orang adalah penghasil sampah meski jumlah sampah yang mereka hasilkan itu berbeda-beda. Data SIPSN menunjukkan, sepanjang 2024, rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar dengan presentase 54,44 persen.
Pesantren sebagai tempat belajar sekaligus tempat tinggal ratusan hingga ribuan santri juga berpotensi menghasilkan banyak sampah. Sebagai contoh, Pesantren Tebuireng Jombang yang memiliki sekitar 5.000 santri bisa menghasilkan sekitar 4 ton sampah per hari. Pada skala yang lebih kecil, Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok yang memiliki sekitar 200 lebih santri bisa menghasilkan 30 Kg lebih sampah per hari.
Persoalan sampah erat kaitannya dengan kebersihan, dan ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan. Bahkan, kebersihan merupakan bagian dari penghambaan kita kepada Allah Swt. Sebut saja sholat, yang mensyaratkan air yang bersih dan suci untuk berwudlu, juga tempat dan pakaian yang bersih untuk menunaikan sholat.
Bahkan, di dalam urusan manusia yang paling intim, yakni “hubungan” suami-istri, ajaran Islam masih memerhatikan aspek kebersihan. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah: 222 yang berbunyi,
وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلمَحِيْضِ, قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِيْ اْلمَحِيْضِ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ, فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ, إِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Haid. Katakanlah: “Itu adalah penyakit, maka jauhilah istri (kalian) pada saat mereka haid, dan jangan kalian mendekati mereka hingga mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka datangilah mereka sebagaimana (ketentuan) yang Allah perintahkan kepada kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri.”
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar memaknai kata adza sebagai “gangguan”. Sementara itu, dalam Tafsir Kementerian Agama RI cetakan 2011, kata tersebut dimaknai sebagai “sesuatu yang kotor”. Ayat ini ditujukan kepada semua laki-laki muslim, untuk menjelaskan agar mereka tidak mendekati istri mereka, dalam arti tidak “berhubungan”, selama istri sedang haid hingga ia suci dari haid. Hatta yath-hurna.
Tidak cukup hanya ketika istri sudah suci dari haid, laki-laki muslim baru dibolehkan untuk “mendatangi” istrinya ketika sang istri sudah membersihkan diri atau menyucikan diri, yakni dengan mandi, fa idza tathahharna. Artinya, tidak cukup hanya sampai yath-hurna, yang itu merupakan siklus dalam sistem reproduksi dan terjadi secara otomatis, tapi juga harus dengan yatathahharna, ada aksi, ada tindakan aktif dari istri untuk membersihkan diri.
Dan Allah menegaskan pada akhir ayat, bahwa diri-Nya Mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri, bersungguh-sungguh membersihkan diri.
Jika pada urusan yang paling intim saja Islam begitu memerhatikan aspek kebersihan, maka pada urusan yang umum dan menyangkut kepentingan orang banyak, Islam tentu memberikan perhatian yang lebih besar lagi.
Di samping itu, Islam mengajarkan bahwa segala tindakan kita adalah tanggung jawab kita, dan kelak kita akan menerima konsekuensinya. Allah Berfirman, Li kullin imri`in bima kasaba rahinun, setiap pribadi bertanggung jawab atas segala hal yang ia perbuat. Setiap muslim bertanggung jawab atas sampah yang ia hasilkan.
Hadirin yang dirahmati oleh Allah,
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim, dan lebih khusus sebagai santri, untuk bisa berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus sebagai bentuk menjalankan ajaran Islam soal kebersihan dan tanggung jawab? Setidaknya ada empat langkah kecil yang bisa kita lakukan.
Pertama, mengurangi penggunaan produk sekali pakai. Maraknya penggunaan produk sekali pakai seperti kantong plastik, gelas plastik, kaleng, dan semacamnya, membuat penumpukan sampah tidak bisa dihindari. Padahal, sampah yang menumpuk tidak hanya menganggu pandangan, melainkan juga dapat menjadi sarang tumbuhnya beragam penyakit.
Oleh karena itu, kita harus mulai membiasakan diri menggunakan produk yang bisa dicuci dan digunakan berkali-kali.
Kedua, menghabiskan makanan. Data SIPSN menunjukkan, sepanjang 2024, sampah yang paling banyak adalah sampah berjenis sisa makanan, dengan presentase 39,22 persen atau setara dengan 10,9 juta ton. Ini merupakan fakta yang miris, mengingat Indonesia yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia justru menghasilkan sampah sisa makanan sebanyak itu. Padahal, Allah Swt Berfirman dalam Qs. Al-Isra ayat 27,
إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنُ, وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan adalah saudara setan, dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya.
Ketiga, membuang sampah pada tempatnya. Nabi Muhammad Saw pernah mengingatkan umatnya sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadis riwayat Muadz bin Jabal berikut ini,
اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلاَثِ: الْبَرَّازُ فِيْ الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيْقِ وَالظِّلِّ
Artinya: Takutlah terhadap tiga perkara yang menimbulkan laknat: buang air di saluran air, di tengah jalan, dan di tempat teduh.
Secara spesifik, hadis tersebut merupakan larangan untuk buang hajat di sembarang tempat. Namun, melalui qiyas, hadis tersebut dapat dimaknai sebagai larangan untuk membuang semua jenis limbah secara sembarangan, termasuk sampah,
Keempat, memilah sampah. Dewasa ini, membuang sampah sembarangan mengalami perluasaan makna. Membuang sampah di tempat sampah masih bisa dikategorikan sebagai ‘membuang sampah sembarangan’ ketika kita tidak membuang sampah sesuai jenis sampahnya. Misalnya, sampah anorganik seperti sampah plastik atau kaleng dibuang ke tempat sampah untuk jenis organik.
Hal ini lantaran pemilahan sampah merupakan satu hal yang penting dalam upaya mengurangi timbunan sampah. Pemilahan sampah itu sendiri bermanfaat untuk memudahkan pengolalaan sampah. Sampah anorganik bisa langsung didaur ulang, dan sampah organik bisa langsung diolah menjadi pupuk tanaman atau pakan ternak. Sehingga tidak ada sampah yang terbuang sia-sia.
Jamaah sidang Jumat yang berbahagia,
Mari kita bersama-sama berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah, mari kita mulai dari langkah kecil, Insya Allah langkah kecil itu akan membawa dampak positif yang besar, bagi lingkungan sekitar, bagi negara, atau bahkan bagi alam semesta dan seisinya. Sampah kita, tanggung jawab kita.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
بارَكَ اللّه لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ, إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ, وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّحِمِيْنَ
Khutbah Kedua
الحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى, وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رُسُلِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى, وَعَلىَ خَاتِمِهِمْ مُحَمَّدٍ الْمُجْتَبَى, وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَئِمَّةِ الْهُدَى, وَمَنْ بِهِمْ اقْتَدَى فَاهْتَدَى. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلَّا اللّه وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْد
فَيَا عباد الله, أُصِيْكُمْ وَإِيّايَ بِتَقْوَى اللّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللّه تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ, بِسْمِ اللّهِ الرّحْمنِ الرّحِيْمِ, ٰيآيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا, يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
أَعُوْذُ بِاللّه مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ. بِسْمِ اللّه الرّحمن الرّحِيْمِ. إِنَّ اللّه وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ آمَنُوْا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا. اللّـهُمَّ صَلّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا صَلّيْتَ عَلَى سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيّدِنا إبراهيم وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنا محمَّدٍ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ كمَا بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِناَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سيّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ إنّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيم. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. سُبْحَانَ رَبّكَ رَبّ العِزّةِ عَمّا يَصِفُوْنَ, وَسَلَامٌ عَلىَ المُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للّه رَبّ العَالَمِيْن
عِبَادَ اللّه، إِنّ اللّه يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبىَ وَيَنْهَي عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ, يَعِظُكُمْ لَعَلّكُمْ تَذَكّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللّهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللّهِ أَكْبَرْ. أَقِمِ الصَّلَاة


