Menjadi Santri Al Nahdlah

Apa kabar Bapak/Ibu, Adik-adik dan kakak-kakak sekalian… Semoga Bapak/Ibu, Adik-adik dan kakak-kakak sekalian selalu sehat ya….  saya sebagai santri Al Nahdlah Islamic Boarding School akan menjelaskan dan menceritakan tentang keseruan-keseruan di pondok Al-Nahdlah ketika diawal saya masuk.

Jadi, awal saya masuk ke pondok ini rasanya memang tegang, saat baru masuk pertama kalinya. Tetapi, lama-lama bakalan betah kok kayak saya.. hehe….

Awal mula kegiatan diisi dengan acara Makesta. Jadi, makesta itu menurut saya adalah menjelaskan materi tentang pondok pesantren Al-Nahdlah, setelah beberapa hari itu selesai dengan acara Makesta, para pengurus akan melakukan kegiata jerit malam. Jerit malam itu kita bakalan ditanya tentang materi yang sudah diberikan disaat menjelaskan materi-materi tersebut.

Setelah selesainya acara itu, para pengurus akan melakukan acara lagi, yaitu lomba-lomba. Ada banyak loh, yaitu ada lomba bulu tangkis, lomba futsal sarung, lomba voli dan banyak lagi.  Setelah melakukan kegiatan itu, malam harinya para pengurus menugaskan kita untuk memakai baju yang sama dengan angkatannya, lalu, kita bakalan bermain yel yel se-angkatan. Nah,saat beberapa hari kemudian bakalan melakukan kegiatan MATRIKULASI, yaitu kita bakalan belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab. Dan bulan berikutnya yakni 17 Agustus bakalan ada acara lomba-lomba. Menurutku, yang paling menyenangkan adalah lomba menghias kelas bersama teman-teman.

Nah, setelah beberapa hari itu pun, pesantren mulai melakukan kegiatan KBM yaitu Kegiatan Belajar Mengajar. Saat hari senin dan kamis, biasanya pagi hari itu kita harus bangun jam 03:00 untuk melakukan shalat tahajud. Saat jam 05:00 bakalan melakukan kegiatan TAHFIDZ sampai jam 05:59. Setelah selesai santri dan santriwati ber siap-siap untuk pergi ke kelas, ke kelas itu sekitar pukul 07:00. Saat baru masuk ke kelas, di sana sudah ada wali kelas, dan para santri dan santriwati membersihkan kelas nya. Dan hari selanjutnya pun saat pagi hari juga melakukan kegiatan yang sama.Mulai belajar saat jam 07:02 sampai dengan jam 08:59. Saat jam 09:00, bakalan melakukan shalat Dhuha.

Setelah selesai istirahat selama 30 menit dan melanjutkan belajar. Setelah itu, saat jam 11:37 istirahat sampai jam 12:00 dan bisa mengambil makan siang di dapur. Saat jam 12:00 melaksanakan shalat Dzuhur,setelah selesai itupun waktunya jam istirahat. Setelah jam istirahat mulailah belajar kembali seperti biasa sampai jam 03:00. Setelah itu melakukan shalat ashar.

Habis selesai shalat Ashar melaksanakan kegiatan QIROATI sampai jam 04:57. Setelah selesai,bakalan melakukan kegiatan ratib sebelum berbuka.Dan malam harinya melaksanakan shalat isya dan muhadatsah.Dihari Kamisnya kegiatan yang sama,tetapi dimalam harinya melakukan kegiatan DIBA. Nah, sekarang saya akan kasih tahu kalau kegiatan MUHADATSAH itu dilaksakan dari hari senin sampai kamis. Dan di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Setelah melakukan kegiatan shalat maghrib melakukan membaca Al-Quran.

Sumber Artikel : https://www.kompasiana.com/zelfatihannisa1048/63d35c104addee6460082363/santri-al-nahdlah

Tekad 1 Abad Nahdlatul Ulama

Sidoarjo – 7/2/2023 Dalam Acara Hari Lahir NU 1 Abad,di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, KH. Mustofa Bisri berpidato mengenai Tekad 1 Abad Nahdlatul Ulama dalam bahasa Arab di dampingi oleh Yenny Wahid sebagai penerjemahnya. Berikut isi pidato beliau.

Nahdlatul Ulama berpandangan, bahwa pandangan lama yang berakar pada tradisi Fiqih klasik, yaitu adanya cita-cita untuk menyatukan seluruh Umat Islam di bawah naungan tunggal se dunia atau Negara Khilafah harus digantikan dengan visi baru dengan mewujudkan kemaslahatan Umat.

Cita-cita mendirikan kembali Negara Khilafah yang dianggap dapat menyatukan Umat Islam sedunia namun dengan hubungan yang berhadap-hadapan dengan non muslim bukanlah hal yang pantas diusahakan dan dijadikan sebuah aspirasi. Sebagaimana terbukti akhir-akhir ini melalui upaya mendirikan Negara ISIS usaha semacam ini niscaya akan berakhir dalam kekacauan dan justru berlawanan dengan tujuan-tujuan pokok Agama atau Maqosidu Syariah yang tergambar dalam 5 prinsip: menjaga nyawa, menjaga Agama, menjaga akal, menjaga keluarga, dan menjaga harta.

Dalam kenyataannya usaha-usaha untuk mendirikan kembali Negara Khilafah nyata-nyata bertabrakan dengan tujuan-tujuan pokok Agama tersebut. Dikarenakan usaha semacam ini  akan menimbulkan ketidakstabilan dan merusak keteraturan sosial politik. Lebih dari itu jikapun akhirnya berhasil   usaha-usaha ini juga menyebabkan runtuhnya sistem Negara Bangsa serta menyebabkan konflik berbau kekerasan yang akan menimpa sebagian besar wilayah di dunia. Sejarah menunjukkan kekacauan karena perang pada akhirnya akan selalu didampingi dengan penghancuran yang luas atas rumah ibadah hilangnya nyawa manusia, hancurnya akhlak, keluarga, dan harta benda.

Dalam pandangan Nahdlatul Ulama cara yang paling tepat dan manjur untuk mewujudkan kemaslahatan Umat Islam sedunia adalah dengan memperkuat  kesejahteraan dan kemaslahatan seluruh Umat manusia baik muslim atau non muslim serta mengakui adanya persaudaraan seluruh manusia anak cucu Adam Ukhuwah Basyariah.

Perserikatan Bangsa-bangsa berikut piagamnya memanglah tidak sempurna. Dan harus diakui masih mengandung masalah hingga saat ini. Namun demikian piagam PBB itu dimaksudkan sejak awal sebagai upaya untuk mengakhiri perang yang amat merusak dan praktek-praktek biadab yang mencirikan hubungan Internasional sepanjang sejarah manusia. Karena itu piagam PBB dan PBB itu sendiri bisa menjadi dasar yang paling kokoh dan yang tersedia untuk mengembangkan Fiqih baru guna menegakkan masa depan peradaban manusia yang damai dan harmonis.

Daripada bercita-cita dan berusaha untuk menyatu padukan seluruh Umat Islam dalam Negara Tunggal sedunia yaitu Negara Khilafah, Nahdlatul Ulama memilih jalan lain. Mengajak Umat Islam untuk menempuh visi baru mengembangkan wacana baru tentang Fiqih. Yaitu Fiqih yang akan dapat mencegah eksploitasi atas identitas, menangkal penyebaran kebencian antar golongan mendukung solidaritas dan saling menghargai perbedaan diantara manusia, budaya, dan Bangsa-bangsa di dunia. Serta mendukung lahirnya tatanan dunia yang  sungguh-sungguh adil dan harmonis. Tatanan yang didasarkan pada penghargaan atas hak-hak yang setara serta martabat setiap Umat manusia. Visi seperti inilah yang justru akan mampu mewujudkan tujuan-tujuan pokok Syariah.

Get 30% off your first purchase

X